Kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis atau MBG di Kota Cirebon terus meluas. Hingga Rabu siang, Dinas Kesehatan mencatat 270 orang terdampak, terdiri dari anak-anak dan orang dewasa. Seorang balita berusia empat tahun bahkan sempat mengalami penurunan kesadaran dan harus mendapatkan perawatan intensif.
Ratusan korban dugaan keracunan makanan bergizi gratis MBG di Kota Cirebon mendapatkan penanganan medis. Hingga Rabu siang, Dinas Kesehatan Kota Cirebon mencatat 270 orang terdampak, dengan rincian 231 anak-anak dan 39 orang dewasa.
Dari jumlah korban keracunan MBG dari SPPG 05 Kalijaga, 211 pasien menjalani rawat inap, sementara 77 lainnya mendapatkan penanganan rawat jalan. Penanganan korban tersebar di delapan rumah sakit di Kota Cirebon. Di tengah lonjakan pasien, seorang balita berusia empat tahun sempat mengalami penurunan kesadaran. Balita yang menjadi korban terdampak kini mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Siloam. Kondisinya sempat dikaitkan dengan syok hipovolemik akibat kehilangan cairan tubuh. Namun, berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan hingga pukul 23.00 WIB, balita yang bersangkutan dilaporkan telah sadar sepenuhnya.
Baca Juga:Sukalila Berubah, Rencana Pembangunan Jembatan Muncul Dipertengahan Jalan – VideoDiduga Keracunan Menu MBG, Puluhan Siswa Alami Mual dan Muntah – Video
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Hajah Siti Maria Listiawaty menyebut, petugas masih menelusuri penyebab pasti kejadian. Salah satu temuan awal yang menjadi perhatian adalah keluhan pasien terhadap menu sop telur puyuh yang dikonsumsi.
Berdasarkan anamnesis dan wawancara awal, sejumlah korban mengeluhkan kuah sop yang terasa asam. Bahkan, seorang guru yang hanya mencicipi kuah tanpa memakan telur puyuhnya disebut turut mengalami diare.
Meski demikian, Dinas Kesehatan belum memastikan menu sop telur puyuh sebagai penyebab keracunan. Sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG, sampel muntahan pasien dari RS Siloam, serta sampel tinja pasien dari RS Ciremai telah dikumpulkan dan dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Barat. Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat 14 hari.
Dinas Kesehatan juga menelusuri penerima MBG di 28 institusi pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga tempat penitipan anak. Penelusuran tak hanya menyasar siswa yang makan di sekolah, tetapi juga anggota keluarga yang ikut mengonsumsi makanan setelah dibawa pulang.