Di sebuah permukiman padat, di RT 03 RW 04 Kalitanjung Timur, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, berdiri sebuah masjid yang menyimpan kisah panjang perjalanan dakwah Islam. Masjid Syekh Birawa tak hanya menjadi tempat ibadah, namun juga penanda sejarah yang terus hidup di tengah masyarakat.
Di sebuah permukiman padat penduduk, di RT 03 RW 04 Kalitanjung Timur, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, berdiri sebuah masjid yang menyimpan kisah panjang perjalanan dakwah Islam. Masjid Syekh Birawa tak hanya menjadi tempat ibadah, namun juga penanda sejarah yang terus hidup di tengah masyarakat.
Di tanah inilah, konon Syekh Birawa mendirikan masjid dan peguron, tempat ia membantu Sunan Gunung Jati menyebarkan ajaran Islam di wilayah Cirebon.
Baca Juga:Sampah di TPS Desa Megu Cilik Over Kapasitas – VideoDPRD Kab. Cirebon Soroti Kesejahteraan Pekerja – Video
Berdasarkan catatan Babad Tanah Cirebon, Syekh Birawa dikenal sebagai seorang adipati bernama Raden Birawa. Ia merupakan keponakan dari Prabu Siliwangi. Kisahnya berawal saat ia berguru Islam di Pengguron Gunung Jati.
Masjid yang dibangun sekitar abad ke-14 ini kini telah mengalami renovasi total. Bangunan aslinya tak lagi tersisa, namun nilai sejarahnya tetap terjaga.
Di dalam masjid, sebuah etalase kaca menyimpan beragam peninggalan berharga. Terdapat keris, tombak, gada, serta tongkat khotib yang dipercaya berasal dari abad keempat. Menariknya, tongkat tersebut masih digunakan hingga kini setiap salat Jumat, menjadi simbol kesinambungan tradisi dan dakwah.
Selain itu, terdapat pula Al-Quran berusia sekitar 400 tahun, serta tempat makan berbahan baja, dan alat penerangan zaman dahulu. Benda-benda ini menjadi saksi bisu kehidupan dan perjuangan masa lampau.
Masjid ini sempat dikenal dengan nama Masjid Jami Kalitanjung. Namun pada masa kepemimpinan Walikota Khumaedi, namanya diubah menjadi Masjid Syekh Birawa, sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang diyakini berperan besar dalam sejarah penyebaran Islam di kawasan ini.
Di samping masjid, mengalir Sungai Suba yang menambah nuansa tenang di sekitarnya. Tak jauh dari sana, terdapat Pesarean Syekh Birawa di area pemakaman umum, tepat di bawah pohon besar yang meneduhkan. Tempat itu kini menjadi ruang ziarah dan pengingat akan perjalanan seorang adipati yang menemukan jalan dakwahnya.