Kembali ke Sekolah: Menjemput Kenangan yang Pernah Membentuk Masa Depan

Bambang Mujiarto ST
Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat, Bambang Mujiarto ST saat memberikan materi pendidikan demokrasi di SMK Muhammadiyah Cirebon. Foto: Raihan/radarcirebon.tv
0 Komentar

Lebih Dekat Dengan Bambang Mujiarto ST, Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat

RADARCIREBON.TV – Di antara derap waktu yang terus bergerak maju, ada satu momen yang selalu mampu memutar kembali kenangan: pulang ke sekolah.

Bagi Bambang Mujiarto ST, langkah kakinya yang kembali menapaki halaman SMK Muhammadiyah Cirebon bukan sekadar kunjungan biasa. Itu adalah perjalanan batin, sebuah perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, antara mimpi yang dulu dirintis dan kenyataan yang kini ia genggam.

Siang itu, suasana sekolah di Jalan Tuparev, Kedawung, Kabupaten Cirebon terasa berbeda. Bukan hanya karena kehadiran seorang pejabat publik, tetapi karena yang datang adalah seorang anak didik yang pernah duduk di bangku-bangku sederhana, mengukir harapan dengan segala keterbatasan.

Baca Juga:Saat Bambang Bertemu Pelajar : Mental Berani Itu Fondasi, Idealisme itu Tiangnya, Kemanusiaan Itu AtapnyaBambang Mujiarto: Petani Pahlawan Pangan, Sudah Selayaknya Hidup Sejahtera

Sekitar 26 tahun lalu, Bambang muda adalah bagian dari riuh rendah pelajar jurusan mesin produksi, mengenakan seragam yang sama, belajar di ruang kelas yang mungkin tak banyak berubah, dan bermimpi tentang masa depan yang saat itu masih tampak jauh.

Ia berjalan perlahan, menatap sudut-sudut sekolah yang menyimpan serpihan kenangan. Di sana, di antara dinding-dinding yang pernah menjadi saksi bisu, tersimpan cerita tentang perjuangan, tentang lelah yang tak pernah dikeluhkan, dan tentang semangat yang tak pernah padam.

“Di tempat inilah semuanya dimulai,” ungkapnya lirih, dengan mata yang seolah menelusuri masa lalu.

Bagi Bambang, sekolah ini bukan hanya tempat belajar teori dan praktik. Lebih dari itu, SMK Muhammadiyah Cirebon adalah ruang pembentukan karakter. Di sinilah ia belajar arti disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras.

Di sinilah mentalnya ditempa, dari seorang remaja biasa menjadi pribadi yang tangguh menghadapi kerasnya kehidupan.

Ia mengenang masa-masa ketika fasilitas belum semaju sekarang. Ketika alat praktik terbatas, ketika tantangan terasa lebih besar, namun semangat untuk belajar justru berkobar lebih kuat.

Setiap hari adalah perjuangan. Setiap pelajaran adalah investasi masa depan.

Tak ada yang instan. Semua yang ia raih hari ini, kata Bambang, adalah buah dari proses panjang yang berakar dari sekolah tersebut.

0 Komentar