Momentum satu dekade Komunitas Mari Sejahterakan Petani (MSP) Indonesia dipusatkan di Desa Sukadana, Kecamatan Pabuaran Kabupaten Cirebon. Mengusung tema “Bertani, Berdaulat Pangan untuk Ketahanan Negara”, MSP mengirim pesan yang tak bisa lagi ditawar yaitu, pangan adalah senjata strategis.
Di tengah riuhnya dinamika geopolitik global, ketika rantai pasok dunia mudah goyah oleh konflik, krisis energi, hingga perubahan iklim yang kian tak tertebak, satu hal kerap luput dari sorotan yaitu siapa yang menjamin piring rakyat tetap terisi? Jawabannya sederhana, tapi sering diabaikan, petani.
Momentum satu dekade Komunitas Mari Sejahterakan Petani (MSP) Indonesia bukan sekadar perayaan organisasi. Namun hadir sebagai penegasan bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak dimulai dari istana atau gedung parlemen, melainkan dari tanah yang diolah dengan tangan-tangan kasar petani, dari sawah yang tetap hijau di tengah ancaman musim yang tak menentu.
Baca Juga:Koruptor Dana PKH Diringkus Polisi Saat Tidur – VideoPenantian 12 Tahun Calon Jamaah Haji Berangkat Ke Tanah Suci – Video
Mengusung tema “Bertani, Berdaulat Pangan untuk Ketahanan Negara”, MSP seakan mengirim pesan yang tak bisa lagi ditawar yaitu pangan adalah senjata strategis.
Ketika Pangan Bukan Lagi Sekadar Komoditas, pangan kerap diperlakukan sebagai angka-angka statistik, produksi beras sekian ton, impor sekian juta, inflasi sekian persen.
Namun di balik itu, ada realitas yang lebih kompleks: ketergantungan. Ketergantungan pada impor. Ketergantungan pada benih luar. Ketergantungan pada sistem distribusi yang rapuh. Dalam konteks itulah, MSP berdiri dan berjalan selama sepuluh tahun terakhir. Bukan sekadar mendampingi petani, tetapi membangun kesadaran bahwa bertani hari ini adalah bagian dari menjaga kedaulatan negara.
Ketua Umum MSP Indonesia, Bambang Mujiarto ST, menegaskan ketahanan negara tidak bisa hanya diukur dari kekuatan militer atau stabilitas politik. Jika rakyat masih bergantung pada pangan impor, maka sesungguhnya negara sedang berdiri di atas fondasi yang rapuh dan Piring rakyat tidak boleh ditentukan oleh situasi global.
Perjalanan MSP bukan tanpa tantangan. Di banyak wilayah, petani menghadapi realitas pahit seperti lahan semakin sempit, cuaca ekstrem, biaya produksi meningkat, sementara harga jual seringkali tak berpihak.