RADARCIREBON.TV – Format turnamen FIFA ASEAN Cup 2026 lagi jadi bahan obrolan hangat, terutama karena kabarnya bisa kasih keuntungan besar buat Timnas Indonesia. Meski belum resmi diumumin, bocoran yang beredar sudah cukup bikin fans Garuda berharap banyak.
Jadi ceritanya, FIFA bakal bikin turnamen baru khusus negara-negara Asia Tenggara. Ini jadi momen bersejarah, karena baru pertama kalinya FIFA ngadain kompetisi resmi di kawasan ini.
Turnamennya sendiri dijadwalkan berlangsung dari 21 September sampai 6 Oktober 2026, pas banget sama jadwal FIFA Matchday. Artinya, klub-klub wajib melepas pemainnya, jadi tiap negara bisa turun dengan skuad terbaik.
Baca Juga:Megawati Masuk! Ini Daftar Lengkap 17 Pemain Timnas Voli Putri Indonesia untuk Turnamen Besar 2026Jadwal Timnas Indonesia Juni 2026: Siapa Saja Lawan Timnas Indonesia di FIFA Matchday?
Yang menarik, FIFA kabarnya bakal gabungin dua jeda internasional sekaligus, jadi tiap tim bisa main sampai empat pertandingan dalam waktu singkat. Nah, di sinilah mulai kelihatan potensi keuntungannya buat Indonesia.
Walaupun format resminya belum diketok, FIFA bareng AFC dan federasi AFF bakal nentuin semuanya di Kongres AFC ke-36 di Vancouver, Kanada. Tapi, media Vietnam, Lao Dong, sudah lebih dulu ngebocorin rencana formatnya.
Menurut bocoran itu, turnamen bakal pakai sistem gugur alias knockout. Semua tim akan diundi berdasarkan ranking FIFA terbaru.
Nah, lima tim dengan ranking tertinggi di Asia Tenggara bakal langsung lolos ke perempat final—dan kabar baiknya, Indonesia masuk dalam daftar itu bareng Thailand national football team, Vietnam national football team, Philippines national football team, dan Malaysia national football team.
Sementara itu, enam tim lain seperti Singapore national football team, Myanmar national football team, Cambodia national football team, Laos national football team, Brunei national football team, dan Timor-Leste national football team harus mulai dari babak kualifikasi dulu.
Kalau skenario ini benar terjadi, jalur Indonesia ke final bisa dibilang lebih “ringan” dibanding tim non-unggulan. Garuda cuma perlu menang tiga kali—perempat final, semifinal, dan final—buat jadi juara. Bandingin sama tim dari kualifikasi yang harus main empat kali, jelas lebih menguras tenaga.
Dari bagan yang beredar, potensi lawan Indonesia di semifinal juga cukup menantang, bisa jadi ketemu Vietnam atau tim kejutan dari jalur kualifikasi. Tapi tetap saja, dengan langsung start di perempat final, peluang Indonesia buat melangkah jauh jadi lebih terbuka.
