RADARCIREBON.TV- Persaingan di lini tengah Manchester United kembali menjadi sorotan. Kali ini, legenda klub yang kini menukangi Middlesbrough, Michael Carrick, melontarkan sindiran tajam yang tampaknya dialamatkan kepada pelatih anyar Ruben Amorim terkait cara ia memperlakukan gelandang muda potensial, Kobbie Mainoo.
Dalam wawancara terbarunya, Carrick tidak menyebut nama Amorim secara gamblang. Namun, pilihan katanya sangat menohok dan jelas merujuk pada situasi yang terjadi di Old Trafford beberapa pekan terakhir. “Seorang pemain muda dengan bakat istimewa seperti Kobbie seharusnya dibangun rasa percaya dirinya, bukan justru dibuat bingung dengan rotasi yang tak jelas,” ujar Carrick.
Pernyataan ini muncul setelah Amorim beberapa kali menurunkan Mainoo tidak pada posisi alaminya sebagai gelandang tengah. Alih-alih menjadi pengatur ritme permainan, Mainoo kerap ditempatkan sebagai second striker atau bahkan sayap. Akibatnya, performa pemain berusia 19 tahun itu menurun drastis. Ia terlihat kehilangan naluri naturalnya dalam membaca permainan.
Baca Juga:HASIL AKHIR! PSG vs Bayern 5-4, Drama 9 Gol di Paris, Harry Kane Cetak Satu, Kvaratskhelia & Dembele Brace!GAK MASUK AKAL! PSBS Biak Dibantai Tanpa Ampun, Malut United Lagi Kerasukan?!
Carrick, yang dikenal sebagai gelandang cerdas selama masa jayanya di Manchester United, menekankan pentingnya konsistensi posisi bagi pemain muda. “Ketika Anda menemukan berlian, Anda tidak perlu mengubah bentuknya. Anda cukup memolesnya agar semakin berkilau. Kobbie tahu persis di mana ia bisa memberikan dampak terbaik. Jangan korbankan masa depannya hanya untuk eksperimen sesaat,” tegas mantan kapten United tersebut.
Pernyataan Carrick ini sindiran terselubung sekaligus kritik pedagogis. Sebagai eks gelandang yang pernah dilatih oleh Sir Alex Ferguson, Carrick paham betul bagaimana mengorbitkan pemain muda. Ia mengingatkan bahwa kesalahan dalam memperlakukan binaan akademi bisa berdampak jangka panjang. Mainoo, yang musim lalu menjelma jadi pahlawan di lini tengah, kini mulai kehilangan tempat setelah kedatangan Amorim.
“Saya melihat Kobbie bermain dengan beban pikiran akhir-akhir ini. Itu bukan dirinya yang dulu. Seorang pelatih harusnya melindungi, bukan menambah tekanan dengan peran yang tidak biasa,” tambah Carrick.
Di sisi lain, Ruben Amorim memang dikenal sebagai pelatih dengan sistem taktik yang rigid. Formasi 3-4-3 andalannya menuntut fleksibilitas tinggi, terutama dari para gelandang mudanya. Namun, Carrick menilai adaptasi tidak harus dilakukan dengan cara mengorbankan identitas pemain.
