RADARCIREBON.TV- Dulu, nama Dewa United identik dengan tim papan tengah yang kadang memberi kejutan, namun belum cukup konsisten untuk bersaing di papan atas. Tapi, siapa sangka? Memasuki musim 2025/2026, tim berjuluk The Tangsel Warriors ini menjelma menjadi salah satu kandidat terkuat untuk finis di empat besar. Perubahan signifikan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari perombakan besar-besaran di lini skuad dan filosofi permainan yang diterapkan pelatih asal Belanda, Jan Olde Riekerink.Dari data terkini, setidaknya ada empat nama yang rutin dipanggil Timnas Indonesia: Egy Maulana Vikri, Ricky Kambuaya, Brian Fatari, dan Wahyu Prasetyo.
Kepercayaan pelatih Shin Tae-yong kepada pemain Dewa United menjadi bukti bahwa kualitas tim ini sudah diakui di level tertinggi. Apalagi, kehadiran pemain asing seperti Alex Martins (Brasil) dan Noah Sadaoui (Maroko) membuat lini serang mereka garang.
Pertanyaannya, akankah Dewa United mampu mempertahankan performa hingga akhir musim? Jika mampu menjaga konsistensi dan skema rotation berjalan mulus, nama Dewa United bukan hanya akan merepotkan tim-tim besar, tetapi juga layak diperhitungkan sebagai penantang gelar yang sesungguhnya.
Baca Juga:Siap-siap War! Jadwal Pembelian Tiket Pertandingan Chelsea vs AC Milan Tur Pramusim di Jakarta 2026Pertandingan Persija Jakarta vs Persib Bandung Belum Tentu di JIS atau GBK, Apakah akan Diadakan Luar Jakarta?
Performa impresif Dewa United musim ini juga tidak lepas dari kedalaman skuad yang semakin merata di setiap lini. Di sektor pertahanan, koordinasi antar pemain terlihat jauh lebih solid dibanding musim-musim sebelumnya.
Wahyu Prasetyo yang dikenal disiplin dalam menjaga area pertahanan mampu menjadi pemimpin lini belakang, didukung oleh pemain-pemain yang punya determinasi tinggi dalam duel satu lawan satu. Hal ini membuat Dewa United tidak lagi mudah ditembus oleh lawan, bahkan ketika menghadapi tim-tim dengan lini serang tajam.
Di lini tengah, kombinasi antara kreativitas dan kerja keras menjadi kunci. Ricky Kambuaya berperan sebagai motor serangan dengan kemampuan dribel dan visi bermainnya, sementara Brian Fatari memberikan keseimbangan lewat pergerakan tanpa bola dan kontribusi defensif.
Sementara itu, Egy Maulana Vikri yang sering bergerak dari sisi sayap menjadi ancaman konstan berkat kecepatan dan kelincahannya. Pola permainan yang fleksibel membuat Dewa United mampu beradaptasi dengan berbagai situasi pertandingan.
