RADARCIREBON.TV- Premier League selalu menghadirkan drama luar biasa setiap musimnya. Bukan hanya soal tim yang menjadi juara, tetapi juga kisah tragis klub-klub yang nyaris mengangkat trofi namun akhirnya gagal di garis akhir. Musim 2025/2026 tampaknya mulai menghadirkan ketakutan baru bagi Arsenal, yang kembali berada dalam tekanan besar di persaingan papan atas.
The Gunners sebenarnya tampil sangat konsisten sepanjang musim. Permainan cepat, agresif, dan kolektif membuat mereka sempat memimpin klasemen dalam waktu cukup lama. Namun seperti beberapa musim sebelumnya, Arsenal mulai kehilangan poin penting di momen-momen krusial.
Situasi ini membuat banyak penggemar mulai khawatir Arsenal akan kembali menjadi “korban” dalam daftar kegagalan juara paling tragis di Premier League. Jika benar terjadi, musim ini bisa sejajar dengan beberapa kisah pahit yang masih dikenang hingga sekarang.
Baca Juga:PSG ke Final Liga Champions! Vitinha Orkestrator, Kvaratskhelia Magis, Safonov Jadi Tembok BayernKurniawan Bongkar Gaya Bermain Qatar U-17, Timnas Indonesia Diminta Waspada Serangan Cepat
Salah satu kegagalan paling terkenal tentu milik Newcastle United musim 1995/1996. Saat itu, tim asuhan Kevin Keegan sempat unggul 12 poin dari Manchester United. Namun perlahan mereka kehilangan konsistensi dan akhirnya disalip Setan Merah di akhir musim. Momen “I would love it!” dari Keegan bahkan menjadi simbol frustrasi besar dalam sejarah Premier League.
Ada juga kisah tragis Liverpool musim 2013/2014. Tim asuhan Brendan Rodgers tampil luar biasa bersama Luis Suarez dan nyaris mengakhiri puasa gelar panjang. Namun kekalahan dari Chelsea serta insiden terpeleset Steven Gerrard menjadi awal kehancuran mimpi mereka.
Arsenal sendiri sebenarnya sudah pernah mengalami rasa sakit serupa. Pada musim 2022/2023, mereka memimpin klasemen hampir sepanjang musim sebelum akhirnya disalip Manchester City. Banyak yang menilai pengalaman pahit itu seharusnya membuat Arsenal lebih matang, tetapi tekanan dalam perebutan gelar ternyata tetap sangat sulit dihadapi.
Musim ini, tanda-tanda penurunan mulai terlihat. Jadwal padat, cedera pemain penting, dan tekanan mental membuat performa Arsenal tidak lagi setajam awal musim. Di saat yang sama, rival-rival mereka justru mulai menemukan konsistensi.
Hal yang membuat situasi Arsenal terasa lebih menyakitkan adalah ekspektasi besar yang sudah terbangun. Setelah beberapa tahun membangun proyek bersama Mikel Arteta, banyak fans yakin musim ini adalah waktu terbaik mereka untuk menjadi juara Premier League.
