Sebelum perang pecah, Trump berulang kali menyebut China sebagai tantangan utama AS. Namun kini, menurut analis, Washington datang dengan posisi yang lebih lemah.
Brian Katulis menilai militer AS telah menghabiskan banyak persenjataan dan amunisi hanya dalam waktu sekitar satu setengah bulan konflik berlangsung.
Situasi tersebut dinilai memberi keuntungan strategis bagi China yang terus mengamati perkembangan konflik di Timur Tengah.
Baca Juga:Cara Dapat Saldo DANA Gratis 2026 dari Aplikasi Penghasil Uang yang Terbukti MembayarIsrael dan Amerika Serikat Berselisih Arah dalam Kebijakan terhadap Iran
Israel Sebut Perang Belum Selesai
Meski Trump dan sejumlah pejabat senior AS menyebut fase ofensif perang telah berakhir, situasi di lapangan masih belum benar-benar mereda.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam wawancara dengan program 60 Minutes di CBS mengatakan perang belum selesai.
Menurut Netanyahu, masih ada kebutuhan untuk merebut uranium dari program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber perselisihan internasional.
Jalan Keluar Dinilai Hanya Lewat Negosiasi
Pakar kebijakan luar negeri dari American University, Garret Martin, menilai jalan keluar paling realistis bagi Trump kemungkinan hanya melalui negosiasi.
Martin bahkan menyebut hasil akhirnya bisa saja lebih longgar dibanding kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 pada era Barack Obama yang dulu sempat dikritik keras oleh Trump.
Menurutnya, keunggulan militer Amerika Serikat tidak otomatis menjamin kemenangan dalam konflik seperti ini.
Sebab, Iran dinilai memandang konflik tersebut sebagai perang yang menyangkut keberlangsungan rezim dan kepentingan nasional mereka.
