Di Indonesia, tren investasi ETF emas fisik disebut mulai berkembang seiring munculnya sejumlah regulasi baru. World Gold Council menyoroti pertumbuhan pasar emas digital, peluncuran Bullion Ecosystem Development Roadmap 2026-2031, serta regulasi ETF emas fisik dari Otoritas Jasa Keuangan sebagai bagian dari upaya memperluas akses investasi emas.
Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan menyebut, situasi geopolitik global masih mendorong investor memilih emas sebagai aset safe-haven.
“Di Indonesia, kepercayaan ini tidak hanya tercermin pada permintaan fisik, tetapi juga pada evolusi pasarnya. Pertumbuhan platform digital dan inisiatif bullion banking adalah langkah krusial dalam menghapus hambatan akses dan memperkuat kepercayaan pasar,” kata dia.
Baca Juga:Shakira, BTS, dan Madonna Dikabarkan Meriahkan Halftime Show Final Piala Dunia FIFA 202610 Saham Terboncos dan Paling Cuan Pekan Ini, Tiga Di Antaranya Milik Orang Terkaya RI
Menurutnya, perkembangan platform digital dan inisiatif bullion banking di Indonesia menjadi langkah penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap investasi emas dan memperkuat kepercayaan pasar.
World Gold Council juga menilai produk ETF berbasis emas fisik yang dirancang sesuai prinsip syariah berpotensi menarik minat investor Muslim di Indonesia.
“Ekosistem emas berbasis Syariah yang terus berkembang akan memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen pelindung kekayaan jangka panjang,” paparnya.
3. Permintaan perhiasan turun, produksi tambang Indonesia naik
Di sisi lain, volume permintaan perhiasan emas global turun 23 persen yoy menjadi 300 ton akibat tingginya harga emas. Penurunan terjadi di sejumlah pasar utama seperti Tiongkok yang turun 32 persen, India 19 persen, Timur Tengah 23 persen, dan Indonesia 20 persen.
Meski demikian, nilai belanja perhiasan tetap meningkat karena konsumen masih membeli emas di tengah harga yang berada di level tinggi. Sebagian permintaan perhiasan juga disebut beralih ke emas batangan dan koin, terutama di Tiongkok dan India.
Pada kuartal I-2026, bank sentral global menambah 244 ton emas ke cadangan devisa mereka. Bank Indonesia tercatat menambah 2 ton emas ke cadangan devisa nasional.
Di sisi pasokan, total suplai emas global naik 2 persen yoy menjadi 1.231 ton. Produksi tambang mencetak rekor baru untuk kuartal pertama, termasuk didorong kenaikan produksi di Indonesia sebesar 19 persen setelah pemulihan produksi tambang Batu Hijau usai ekspansi fasilitas pengolahan. Sementara itu, aktivitas daur ulang emas hanya naik 5 persen meski harga emas berada di level tinggi.
