RADARCIREBON.TV – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha nasional. Setelah sempat menyentuh level Rp17.667 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026), dunia industri kini mulai mewaspadai dampak lanjutan berupa lonjakan biaya produksi hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Tekanan kurs dinilai bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan. Di balik pelemahan rupiah, terdapat efek domino yang langsung menghantam sektor riil, terutama industri yang bergantung pada bahan baku impor, distribusi logistik, hingga pembiayaan berbasis dolar AS.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menilai level Rp17.000 per dolar sudah menjadi “alarm merah” bagi pelaku usaha. Menurutnya, jika pelemahan rupiah berlangsung terlalu lama, banyak perusahaan akan kesulitan menjaga stabilitas operasional.
Baca Juga:DPR Kritik BI soal Rupiah Melemah, Kondisi Kelas Menengah Ikut Jadi SorotanRupiah Anjlok ke Rp 17.675 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah dan Selat Hormuz Jadi Biang Kerok
“Ketika menyentuh angka Rp17.000 sudah menjadi alarm penuh kewaspadaan,” ujar Sarman.
Kondisi ini membuat banyak pengusaha mulai menghitung ulang biaya produksi. Perusahaan yang selama ini mengandalkan impor bahan baku diperkirakan menjadi sektor paling rentan terkena tekanan.
Biaya impor yang melonjak otomatis akan menaikkan harga produksi barang jadi. Masalahnya, tidak semua perusahaan mampu langsung menaikkan harga jual ke konsumen karena daya beli masyarakat saat ini juga sedang melemah.
Situasi tersebut menciptakan dilema berat bagi pelaku usaha. Jika harga dinaikkan terlalu tinggi, penjualan bisa turun drastis. Namun jika harga dipertahankan, margin keuntungan akan semakin tipis hingga berpotensi menimbulkan kerugian.
Dalam kondisi terburuk, efisiensi perusahaan bisa berujung pada pengurangan tenaga kerja.
Bayangan PHK massal kini mulai menghantui sejumlah sektor industri, terutama manufaktur, tekstil, elektronik, makanan minuman, hingga usaha kecil menengah yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya operasional.
UMKM menjadi kelompok yang dianggap paling rapuh menghadapi gejolak kurs. Banyak pelaku usaha kecil kesulitan menyerap kenaikan harga bahan baku maupun ongkos distribusi karena modal usaha mereka terbatas.
Baca Juga:Harga Tiket Pesawat Naik Drastis 2026, AHY Siap Panggil Maskapai dan Kemenhub
Selain itu, pelemahan rupiah juga dinilai dapat memicu kenaikan inflasi nasional. Ketika harga barang impor naik, efeknya akan merembet ke berbagai sektor konsumsi masyarakat.
