Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat?
Di tengah ketidakpastian nilai tukar, ada beberapa langkah bijak yang bisa diambil oleh masyarakat. Pertama, hindari konversi besar-besaran dari rupiah ke dolar saat ini karena berpotensi mendorong pelemahan rupiah lebih dalam dan justru merugikan diri sendiri jika kurs berbalik menguat.
Kedua, bagi yang berencana melakukan pembelian barang impor atau perjalanan ke luar negeri, pertimbangkan untuk menunda atau mengatur anggaran lebih cermat. Ketiga, memperkuat tabungan dan investasi dalam instrumen rupiah yang kompetitif seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) atau Sukuk Ritel bisa menjadi cara cerdas untuk melindungi nilai aset di tengah fluktuasi kurs.
Keempat, bagi pelaku UMKM yang bergantung pada bahan baku impor, saatnya mulai mengeksplorasi alternatif bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor yang harganya semakin tidak terprediksi.
Baca Juga:Geopolitik Memanas, Rupiah Rontok dan Dolar AS Melesat Tajam Hari IniUpdate Kurs Dolar Rupiah 28 Mei 2026: Tembus Rp17.800, Pengamat Bilang Menteri Keuangan Stres!
Proyeksi ke Depan
Para ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai Bank Indonesia menghadapi tantangan berat untuk membawa rupiah kembali ke target APBN di level Rp16.500 per dolar AS. Pemulihan rupiah sangat bergantung pada meredanya ketegangan geopolitik global, kebijakan The Fed yang mulai melonggarkan suku bunga, serta langkah-langkah fiskal konkret pemerintah yang mampu memulihkan kepercayaan investor.
Dalam jangka pendek, volatilitas nilai tukar rupiah tampaknya masih akan berlanjut. Namun dengan fundamental ekonomi yang masih tumbuh positif dan cadangan devisa yang masih mencukupi, Indonesia diharapkan mampu melewati fase turbulensi ini dengan kerugian yang minimal.
