RADARCIREBON.TV – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu topik yang paling banyak diperbincangkan sepanjang 2026. Mata uang Indonesia ini mengalami tekanan yang cukup berat, bahkan sempat menembus level Rp17.000 per dolar AS untuk pertama kalinya, memunculkan kekhawatiran luas dari kalangan masyarakat, pelaku bisnis, hingga investor. Apa yang sesungguhnya terjadi, dan apa artinya bagi kehidupan sehari-hari warga Indonesia?
Seberapa Parah Pelemahan Rupiah?
Data menunjukkan gambaran yang cukup memprihatinkan. Sejak awal 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 7 persen terhadap dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia terkoreksi lebih dari 29 persen dalam periode yang sama. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terendah sepanjang masa ketika menembus angka Rp17.000 per dolar AS.
Pada akhir April 2026, rupiah bertengger di kisaran Rp17.317 per dolar AS setelah investor asing menarik dana sebesar Rp19,47 triliun dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang Maret hingga April. Kondisi ini menempatkan target APBN 2026 yang mematok kurs rupiah di level Rp16.500 per dolar AS semakin jauh dari kenyataan.
Baca Juga:Geopolitik Memanas, Rupiah Rontok dan Dolar AS Melesat Tajam Hari IniUpdate Kurs Dolar Rupiah 28 Mei 2026: Tembus Rp17.800, Pengamat Bilang Menteri Keuangan Stres!
Penyebab Rupiah Melemah: Kombinasi Faktor Global dan Domestik
Pelemahan rupiah bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi tekanan dari luar dan dalam negeri yang saling bertumpuk.
Dari sisi global, kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menjadi magnet bagi investor global untuk menarik dana dari pasar negara berkembang dan memarkir kembali ke aset berbasis dolar AS. Fenomena ini tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga menekan mata uang regional Asia lainnya seperti Won Korea dan Peso Filipina.
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di kawasan Teluk, khususnya gangguan di Selat Hormuz, turut mendorong penguatan dolar AS sebagai safe haven di tengah ketidakpastian. Indonesia sebagai negara importir minyak menanggung beban ganda: harga minyak naik sekaligus rupiah melemah.
Dari dalam negeri, dua faktor utama yang memperparah situasi adalah besarnya beban fiskal dan isu persepsi independensi Bank Indonesia. Anggaran pembayaran bunga utang yang mendekati Rp600 triliun sepanjang 2026 memicu kekhawatiran investor mengenai ruang fiskal pemerintah yang semakin sempit. Sementara itu, spekulasi mengenai nominasi pejabat strategis di Bank Indonesia yang memiliki kedekatan dengan pihak istana sempat mengguncang kepercayaan pasar terhadap independensi bank sentral.
