Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan bahwa koordinasi yang lebih kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah menjadi kunci.
“Langkah BI menaikkan suku bunga acuan memberikan bantalan yang kuat terhadap rupiah. Selain itu, data APBN Mei yang lebih baik juga meredakan kekhawatiran investor,” ujar Josua .
Meskipun menguat, Josua mengingatkan bahwa pasar masih akan menunggu bukti nyata bahwa disiplin fiskal ini bisa bertahan hingga akhir tahun. Pasalnya, belanja pemerintah biasanya meningkat di semester dua, dan risiko subsidi energi masih cukup besar .
Baca Juga:Menkeu Purbaya: Rupiah Mulai Menguat Juli, Target Rp16.800 di 2027HMI Dorong Sinergi BI Dan Pemda Hadapi Dampak Pelemahan Rupiah – Video
Prospek: Penandatanganan Kesepakatan Damai
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada Jumat, 19 Juni 2026. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, memastikan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan AS dijadwalkan akan ditandatangani di Swiss pada tanggal tersebut .
Jika penandatanganan benar-benar terealisasi, analis memperkirakan rupiah berpotensi menguji level yang lebih kuat lagi dalam waktu dekat.
