RADARCIREBON.TV – Kabar menggembirakan datang dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia memprediksi bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat terasa di awal tahun akan segera mereda. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (10/6/2026), Purbaya menyampaikan keyakinannya bahwa rupiah akan bertahap menguat pada semester II tahun ini .
“Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II-2026,” ujar Purbaya di hadapan para anggota dewan .
Optimisme ini disampaikan setelah rupiah mengalami fluktuasi akibat berbagai guncangan global. Menteri Keuangan menjelaskan beberapa faktor pemicu pelemahan rupiah belakangan ini .
Baca Juga:Dolar AS Nyaris Rp17.800, Purbaya: Nggak Masuk Akal! Ekonomi Bagus Kok Rupiah Malah AnjlokJawaban Kompak Purbaya hingga Bahlil soal Badan Ekspor, Pemerintah Diminta Segera Beri Kepastian
Faktor Tekanan dan Strategi Pemerintah
Menurut Purbaya, tekanan terhadap nilai tukar Garuda berasal dari tiga sumber utama :
Sentimen global yang masih diselimuti ketidakpastian.Kondisi risk-off di pasar keuangan, di mana investor lebih memilih aset-aset aman.Transaksi berjalan dan finansial di dalam negeri yang masih memberikan dinamika tersendiri.Meski demikian, Purbaya optimis tekanan ini bisa diredam. Pemerintah dan Bank Indonesia dinilai kini memiliki koordinasi kebijakan yang lebih solid. Langkah ini disertai dengan upaya perbaikan tata kelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta pendalaman pasar keuangan .
“Pemerintah optimis dengan sinergi dan koordinasi yang lebih solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan,” tegasnya .
Target Rupiah 2027: Stabil di Rp16.800 – Rp17.500
Lebih jauh, dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) yang menjadi pendahuluan RAPBN 2027, pemerintah telah memasang target nilai tukar rupiah.
Purbaya memproyeksikan bahwa tahun depan (2027), rupiah akan bergerak stabil di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS .
Asumsi ini terbilang optimistis mengingat level saat ini masih menyentuh angka psikologis Rp17.000-an. Namun, Menkeu meyakini bahwa ketegangan geopolitik yang selama ini membebani, seperti konflik AS dan Iran, diperkirakan akan mulai mereda. Kondisi ini akan menjadi katalis positif bagi pemulihan ekonomi global dan pada akhirnya menopang penguatan rupiah.
“Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pemerintah memperkirakan rupiah di 2027 terjaga stabil pada kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS,” tutur Purbaya .
