Gangguan seperti heartburn dan perut tidak nyaman membuat tubuh sulit mencapai fase tidur nyenyak. Akibatnya, seseorang mungkin terbangun beberapa kali di malam hari atau mengalami tidur yang dangkal dan tidak memulihkan. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa asupan lemak tinggi yang mendekati waktu tidur dapat memperburuk kualitas tidur. Dalam jangka panjang, kurangnya kualitas tidur yang baik dapat menyebabkan kelelahan kronis, mudah marah, dan melemahnya sistem kekebalan tubuh.
Risiko Obesitas dan Gangguan Metabolisme
Salah satu kekhawatiran terbesar dari kebiasaan ini adalah dampaknya terhadap berat badan dan metabolisme. Saat tidur, metabolisme tubuh melambat dan pembakaran kalori berkurang. Jika makan besar dilakukan tepat sebelum tidur, kalori dari makanan tersebut lebih cenderung disimpan sebagai lemak daripada digunakan sebagai energi.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan dalam jumlah besar di malam hari dapat meningkatkan kerentanan terhadap obesitas dan penyakit kardiometabolik lainnya. Penelitian lain pada pekerja shift malam yang mengonsumsi sebagian besar kalori harian mereka setelah makan malam menunjukkan tingkat kelebihan berat badan, obesitas abdominal, trigliserida tinggi, dan kadar kolesterol tinggi yang lebih tinggi. Kegemukan ini pada gilirannya meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung.
Baca Juga:Begini Cara Mudah Menentukan Shio, Cukup Lihat Tahun dan Tanggal LahirOrang Tua Wajib Tahu! Ini 7 Aturan Gadget untuk Anak Sesuai Usia
Gangguan Metabolisme Gula Darah
Tidur segera setelah makan juga berdampak buruk pada pengaturan gula darah. Setelah makan, terutama yang kaya karbohidrat, kadar gula darah akan naik. Idealnya, tubuh akan menggunakan energi ini untuk beraktivitas. Namun, jika langsung tidur, tubuh tidak memiliki kesempatan untuk membakar glukosa tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa makan malam hanya satu jam sebelum tidur dapat mengganggu regulasi glukosa meskipun toleransi glukosa secara keseluruhan tetap tidak berubah. Seiring waktu, kebiasaan ini dapat menyebabkan resistensi insulin, yang merupakan prekursor diabetes tipe 2.
Ancaman Serius pada Jantung dan Pembuluh Darah
Yang paling mengkhawatirkan, kebiasaan ini dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke dan penyakit kardiovaskular. Setelah makan, darah mengalir lebih banyak ke sistem pencernaan. Pada saat yang sama, aliran darah ke otak dan jantung berkurang.
