Era AI Dimulai, China Hapus Ribuan Jurusan Kuliah yang Tak Sesuai Industri

Upaya pemerintah China dalam menghadapi perubahan pasar kerja yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi
src-img : pexels
0 Komentar

Tekanan terhadap perguruan tinggi semakin besar seiring meningkatnya jumlah lulusan sarjana setiap tahun. Di sisi lain, banyak lulusan merasa bahwa ijazah yang dimiliki tidak lagi menjadi jaminan untuk memperoleh pekerjaan.

Salah satu contohnya adalah University of Shanghai for Science and Technology yang menghentikan penerimaan mahasiswa baru pada jurusan Desain Produk.

Seorang alumni jurusan tersebut mengungkapkan bahwa peluang kerja lulusan desain produk terus menurun karena banyak pekerjaan inti, seperti modelling dan rendering, kini sudah dapat dikerjakan menggunakan teknologi AI.

Baca Juga:Program Beasiswa AI Anthropic Tawarkan Gaji Rp1,5 Miliar per Tahun, Apakah Warga Indonesia Bisa Mendaftar?Etika dalam Kecerdasan Buatan (AI): Prinsip Belmont dan Tantangan di Era Digital

Kampus Ternama Juga Melakukan Perubahan

Perubahan juga dilakukan oleh Communication University of China (CUC) di Beijing.

Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah menggabungkan jurusan sinematografi ke dalam program studi sinematografi dan produksi film serta televisi.

Menurut para alumni, langkah tersebut merupakan respons terhadap perubahan kebutuhan industri kreatif yang kini semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital, termasuk maraknya konten video pendek dan siaran langsung (live streaming).

Seorang alumni CUC, Song Song, menilai dunia pendidikan memang harus mampu mengikuti perubahan industri yang berlangsung sangat cepat agar lulusannya tetap relevan di dunia kerja.

Pakar Nilai Perubahan Jurusan Belum Cukup

Dibutuhkan Reformasi Pendidikan yang Lebih Mendalam

Meski mendukung adanya penyesuaian, sejumlah pakar menilai penghapusan dan pembukaan jurusan baru hanyalah solusi jangka pendek.

Peneliti senior National Institute of Education Sciences, Chu Zhahoui, mengatakan sistem pendidikan tinggi perlu mengalami perubahan yang lebih mendasar agar mampu mengikuti laju perkembangan teknologi.

Menurutnya, banyak jurusan yang kini dihapus sebenarnya baru dibuka beberapa tahun sebelumnya sehingga belum sempat berkembang secara optimal.

Baca Juga:Kondisi Veda Ega Setelah Crash di Moto3 Belanda 2026 Diungkap Bos Honda3 Zodiak yang Berempati Tinggi dan Selalu Ada di Saat Orang Lain Membutuhkan

Mahasiswa Perlu Diberi Fleksibilitas Memilih Mata Kuliah

Chu menyarankan perguruan tinggi menerapkan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel.

Dengan sistem tersebut, mahasiswa memiliki kesempatan lebih besar untuk memilih mata kuliah sesuai minat, kemampuan, dan rencana karier masing-masing. Cara ini dinilai dapat membantu mahasiswa membangun kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Gelar Sarjana Kini Bukan Lagi Jaminan Masa Depan

Perubahan pasar kerja juga memengaruhi cara pandang masyarakat China terhadap pendidikan tinggi.

0 Komentar