RADARCIREBON.TV – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan atau AI tidak boleh dilawan, tetapi harus dimanfaatkan sebagai mitra dakwah yang efektif. Lembaga ini pun menyiapkan kader “Mujahid Digital” untuk memenangkan “perang algoritma” di ruang digital .
Isu ini menjadi sorotan dalam Workshop “Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI” yang digelar Komisi Infokomdigi MUI bersama BAZNAS RI di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini adalah implementasi rekomendasi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang menempatkan transformasi digital sebagai agenda prioritas .
Perang Algoritma dan Ancaman bagi Sanad Ilmu
Ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, menyatakan dakwah saat ini menghadapi “perang algoritma” . Konten-konten instan dan manipulatif sering kali lebih mudah viral, mengancam narasi keislaman yang moderat dan sahih .
Baca Juga:28 Perusahaan China Temui Menteri Ekonomi, Polemik Investasi Asing dan Sumber Daya Alam MengemukaPersib Resmi Promosikan Rafi Rasyiq ke Tim Senior, Kontrak Tiga Tahun untuk Pemain Muda Berbakat
Masduki Baidlowi, Ketua MUI Bidang Infokomdigi, menyoroti tren anak muda yang menjadikan AI sebagai rujukan keagamaan. Fenomena ini menimbulkan echo chamber atau ruang gema yang berpotensi mengikis tradisi sanad ilmu, yaitu mata rantai keilmuan antara guru dan murid .
“Anak muda hari ini mencari ekspresi keagamaan lewat AI avatar dan algoritma,” ujar Masduki. Ia menekankan bahaya ini, di mana jawaban instan dari platform digital berpotensi memutus mata rantai pemahaman agama yang damai (wasathiyah) dan sahih .
AI sebagai Mitra, Bukan Pengganti Ulama
Wakil Ketua Bidang Riset Digital Komisi Infokomdigi MUI, Ismail Fahmi, menekankan bahwa AI adalah mitra, bukan pengganti manusia . “AI jangan dilawan, tetapi juga jangan sampai menguasai manusia. Yang tepat adalah manusia bekerja bersama AI,” tegasnya .
Ia mencontohkan, rekaman ceramah bisa dipotong AI menjadi konten pendek yang siap publikasi. Namun, manusia tetap bertanggung jawab memastikan kebenaran isi dan pesannya .
Senada, Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, mengingatkan bahaya belajar agama dari mesin. Ia menegaskan informasi AI rentan keliru dan tidak memiliki jaminan validitas. “Berguru harus kepada orang, kepada ulama, kepada ustaz yang memang mumpuni dan menjadi teladan. Tidak bisa berguru hanya kepada mesin,” tegasnya .
