Bestari menegaskan pelaksanaan ritual bukan atas kemauan Jokowi, melainkan inisiatif masyarakat adat sebagai penghargaan atas kontribusinya selama menjadi presiden. Ia juga menuding para pengkritik tidak memahami adat Lampung.
“Saya kira itu menghinakan adat budaya gitu loh. Itu kan menghina prosesi adat budaya Lampung. Tapi mudah-mudahan masyarakat Lampung menyikapinya dengan bijaklah dan semakin mengetahui betapa mereka sedang berhadapan dengan orang-orang yang tidak paham adat Lampung tapi ngomong-ngomong adat Lampung,” kata Bestari.
Makna Filosofis Ritual Injak Kepala Kerbau
Tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan prosesi pemberian gelar adat atau muakhi telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu. Ia menjelaskan pemotongan kerbau menjadi simbol tingginya status sosial dalam masyarakat adat Pepadun.
Baca Juga:Jokowi Tiba di Lampung, Jalani Safari Politik Selama Tiga Hari ke Lima DaerahDidit Prabowo Mampir ke Rumah Jokowi di Solo usai Malam 1 Suro, Pertemuan Tertutup Jadi Sorotan
Adapun prosesi meletakkan ujung jari kaki di atas kepala kerbau dimaknai sebagai simbol pengendalian diri dengan menghilangkan sifat-sifat buruk, seperti sombong, iri, dengki, tamak, dan sifat negatif lainnya. Mawardi menegaskan tradisi ini tidak ada kaitannya dengan kepentingan politik.
Tahukah Anda? Prosesi Jokowi menginjak kepala kerbau viral di media sosial dan memicu perdebatan hangat antara PDIP dan PSI. Jokowi, yang dipecat dari PDIP dan kini merapat ke PSI, disebut belum ‘naik kelas’ oleh PDIP karena masih menerima penobatan adat di daerah meski pernah menjadi kepala negara. Namun, PSI justru menilai kritik PDIP sebagai bentuk penghinaan terhadap adat dan budaya Lampung yang telah berlangsung turun-temurun.
