Dari Final Berdarah hingga Rekor Rp 233 Triliun: FIFA di Tengah Sorotan Usai Piala Dunia 2026

Timnas Spanyol
Timnas Spanyol foto: @fifa
0 Komentar

Pendapatan rekor ini didorong oleh beberapa faktor. Perluasan turnamen dari 32 menjadi 48 tim meningkatkan jumlah pertandingan dari 64 menjadi 104. Penjualan tiket menjadi sumber pendapatan dengan pertumbuhan tercepat, dengan harga tiket final rata-rata mencapai US$ 6.147. Hak siar televisi juga menyumbang antara US$ 3,8 miliar hingga US$ 4 miliar. Sementara itu, kemitraan komersial dan sponsorship diperkirakan menyumbang US$ 2,8 miliar hingga US$ 3,8 miliar.

Pendapatan sebesar ini menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai edisi paling menguntungkan dalam sejarah turnamen, sekaligus memperkuat posisi FIFA sebagai salah satu organisasi olahraga paling kaya di dunia.

Format 48 Tim: Sukses atau Gagal?

Ekspansi format menjadi 48 tim untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia menjadi salah satu keputusan paling kontroversial FIFA. Namun, Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsène Wenger, menilai ekspansi ini sebagai “kesuksesan besar”.

Baca Juga:Final dengan Pertunjukan Pertama: Kontroversi Jeda 27 Menit di Piala Dunia 2026Pesta Rakyat Spanyol: 2 Juta Orang Sambut 'Raja Dunia' di Madrid

“Itu dipertanyakan sebelum dimulai. Kami menemukan bahwa itu diperlukan secara etis untuk memberi kesempatan kepada semua orang atau lebih banyak tim untuk mewakili sepak bola. Dan, secara keseluruhan, saya yakin itu adalah keputusan yang tepat dan itu adalah kesuksesan besar,” kata Wenger. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran tentang penurunan kualitas terbukti tidak berdasar.

Namun, kritik terhadap format 48 tim tetap muncul. Banyak yang berpendapat bahwa format ini menciptakan fase grup yang rumit dengan 72 pertandingan hanya untuk mengeliminasi 16 tim. Beberapa analis juga menyoroti ketidakadilan dalam perlakuan terhadap grup di babak gugur. Terlepas dari perdebatan ini, FIFA tampaknya akan terus mempertahankan format 48 tim untuk edisi-edisi mendatang.

Halftime Show Pertama: Inovasi atau Kontroversi?

FIFA juga mencatat sejarah dengan menggelar pertunjukan halftime pertama dalam final Piala Dunia 2026. Acara yang dikurasi oleh vokalis Coldplay, Chris Martin, ini menampilkan deretan musisi papan atas seperti Madonna, Shakira, Justin Bieber, dan BTS.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyebut pertunjukan ini sebagai “spektakel yang spektakuler dan menyatukan” serta “pertunjukan terobosan” yang merayakan sepak bola, musik, dan nilai-nilai bersama. Acara ini juga mendukung FIFA Global Citizen Education Fund, yang bertujuan menggalang dana untuk perluasan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak di seluruh dunia.

0 Komentar