RADARCIREBON.TV – Gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Utara baru saja usai, namun gema kontroversinya masih bergema, kali ini dari salah satu figur paling vokal di sepak bola Eropa. Presiden LaLiga, Javier Tebas, melancarkan kritik pedas kepada FIFA dan Presidennya, Gianni Infantino. Bahkan, ia secara terang-terangan menyerukan agar Infantino mundur dari jabatannya, menambah daftar panjang tekanan yang dihadapi pemimpin sepak bola dunia tersebut.
Kritik Tebas tidak main-main dan menyasar sejumlah kebijakan kontroversial FIFA, mulai dari rencana ambisius memperluas Piala Dunia hingga kebijakan komersialisasi yang dinilainya merusak esensi olahraga.
Rencana 64 Tim: “Menghancurkan Industri Sepak Bola”
Salah satu poin utama kritik Tebas tertuju pada rencana FIFA untuk memperluas jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim. Langkah ini dinilai sebagai bentuk keserakahan yang akan menghancurkan industri sepak bola.
Baca Juga:Messi Unfollow Presiden FIFA Usai Argentina Kalah di FinalPiala Dunia 2026 Penuh Kekacauan, Presiden FIFA Gianni Infantino Didesak Mundur
Bagi Tebas, menambah lebih banyak pertandingan di tengah jadwal yang sudah sangat padat adalah langkah yang tidak bertanggung jawab. Ia menilai bahwa kualitas permainan akan terkorbankan demi kuantitas, sementara para pemain akan semakin kelelahan akibat padatnya kalender pertandingan. Tebas menekankan bahwa sepak bola harus memprioritaskan keseimbangan antara kompetisi dan kesejahteraan pemain, bukan sekadar mengejar keuntungan finansial semata.
“Menambah lebih banyak pertandingan di tengah jadwal yang sudah sangat padat adalah langkah yang tidak bertanggung jawab,” tegas Tebas. Ia menilai bahwa kualitas permainan akan terkorbankan demi kuantitas, sementara para pemain akan semakin kelelahan akibat padatnya kalender pertandingan.
“Water Break” dan Komersialisasi Berlebihan
Tak hanya soal jumlah tim, Tebas juga menyoroti kebijakan kontroversial lainnya yang diterapkan FIFA selama Piala Dunia 2026, yaitu jeda minum atau water break. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai “kebohongan” dan menilainya sebagai bentuk komersialisasi berlebihan yang mengganggu ritme alami permainan.
Selama turnamen, FIFA menerapkan aturan water break selama tiga menit di setiap babak, tanpa memandang kondisi cuaca. Langkah ini dikritik sebagai upaya untuk menambah slot iklan televisi, bukan benar-benar demi kesejahteraan pemain. Tebas menilai bahwa kebijakan semacam ini menunjukkan bahwa FIFA lebih mementingkan uang daripada integritas olahraga.
