Panjang Jimat, Padukan Nilai Religius, Budaya Dan Filosofi – Video

Panjang Jimat, Padukan Nilai Religius, Budaya Dan Filosofi
0 Komentar

Lantunan selawat menggema di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon, Rabu malam, 26 Agustus 2026. Tradisi Panjang Jimat kembali digelar sebagai puncak rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dengan prosesi sakral yang memadukan nilai religius, budaya, dan filosofi kehidupan manusia.

Lantunan selawat menggema di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon, Rabu malam, 26 Agustus 2026. Ribuan warga memadati kawasan Keraton Kasepuhan Cirebon untuk menyaksikan prosesi Panjang Jimat.

Iring-iringan keluarga keraton dan para pengiring bergerak dari Bangsal Panembahan menuju Langgar Agung dengan membawa berbagai perlengkapan pusaka dan hidangan.

Baca Juga:Perseroda Perdagangan Dan Jasa Disiapkan Jadi Motor Pengendali Ekonomi Daerah – VideoArie Prasetiyo Pimpin Kadin Kabupaten Cirebon Periode 2026-2031 – Video

Dalam prosesi tersebut, dibawa nasi jimat, lauk-pauk, ikan bekasem, buah-buahan, piring pusaka, air mawar, hingga minuman tradisional banyu serbat. Seluruh perlengkapan tersebut memiliki makna filosofis yang menggambarkan proses kelahiran manusia.

Kembang goyang dimaknai sebagai simbol ari-ari, sementara air pasatan yang merupakan air mawar dimaknai sebagai simbol air ketuban. Sedangkan banyu serbat menjadi simbol darah setelah proses kelahiran.

Setibanya di Langgar Agung, rangkaian Panjang Jimat dilanjutkan dengan doa bersama, pembacaan Kitab Al-Barzanji, serta lantunan selawat. Prosesi tersebut menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus memperbanyak selawat kepada nabi.

Panjang Jimat menjadi puncak rangkaian tradisi maulid nabi di Keraton Kasepuhan Cirebon yang digelar setiap tahun. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi upaya melestarikan nilai-nilai religius dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun setiap tahun di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon.

0 Komentar