Suasana khidmat menyelimuti Keraton Kanoman Cirebon, untuk menyaksikan Malam Pelal Ageng atau Panjang Jimat, sebagai puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang digelar setiap 12 Rabiul Awal ini, dimaknai sebagai simbol perjalanan kelahiran Rasulullah SAW.
Suasana khidmat menyelimuti Keraton Kanoman Cirebon, dalam gelaran Malam Pelal Ageng atau Panjang Jimat, sebagai puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang digelar setiap 12 Rabiul Awal ini, dimaknai sebagai simbol perjalanan kelahiran Rasulullah SAW, dan sudah sejak ratusan tahun dilaksanakan oleh keluarga Keraton Kanoman.
Istilah Pelal Ageng sendiri dimaknai sebagai malam dengan keutamaan yang besar, yakni momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan tradisi ini menjadi magnet bagi ribuan warga, keluarga hingga keturunan Keraton Kanoman dari berbagai daerah untuk datang dan menyaksikan rangkaian peringatan maulid.
Baca Juga:Perseroda Perdagangan Dan Jasa Disiapkan Jadi Motor Pengendali Ekonomi Daerah – VideoArie Prasetiyo Pimpin Kadin Kabupaten Cirebon Periode 2026-2031 – Video
Benda pusaka yang diarak dalam prosesi Panjang Jimat, ini merupakan peninggalan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, serta para leluhur Keraton Kanoman. Namun, prosesi ini tidak hanya menampilkan warisan sejarah, setiap perlengkapan yang diarak memiliki makna simbolis, yakni menggambarkan perjalanan sebuah kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang menjadi inti peringatan maulid.
Tradisi sakral ini yang membuat Panjang Jimat menjadi bagian penting dalam peringatan maulid di Keraton Kanoman. Bahkan bagi masyarakat, Panjang Jimat menjadi momen untuk melihat lebih dekat berbagai pusaka keraton, sekaligus mengenal warisan sejarah dan budaya Cirebon, yang dahulu kala digunakan para leluhur untuk syiar Islam di tanah Cirebon.
Sementara, sebelum mencapai malam puncak, rangkaian tradisi telah dipersiapkan selama kurang lebih empat puluh hari. Diantaranya adalah memayu, yaitu merawat, memperbaiki, dan merapikan bangunan di lingkungan keraton. Ada pula mipis, berupa pembuatan boreh secara tradisional, serta bikin banjir, yaitu proses pembuatan minyak kelapa secara tradisional, yang seluruh rangkaian pwringatan maukid Nabi Muhammad SAW bermuara pada Malam Pelal Ageng.
Tradisi ini juga menjadi momen silaturahmi bagi keluarga besar keraton yang datang dari berbagai daerah. Karena selain menjaga warisan budaya, Panjang Jimat diharapkan menjadi sarana untuk mendapatkan keberkahan, sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Nabi Muhammad SAW.