Abu vulkanik tidak hanya dapat mengganggu mesin dan kaca kokpit, tetapi juga merusak bagian luar pesawat. Partikelnya yang keras dan kasar dapat mengikis cat serta permukaan badan pesawat ketika pesawat melaju melewati awan abu. Jika terkena dalam jumlah banyak, abu dapat meninggalkan goresan dan kerusakan pada bagian luar pesawat.
Abu vulkanik juga dapat mengganggu beberapa komponen penting, seperti tabung Pitot yang membantu mengukur kecepatan udara. Jika tabung ini tersumbat, informasi kecepatan udara pada instrumen pesawat dapat menjadi tidak akurat. Selain itu, abu yang masuk ke sistem penanganan udara dapat mengontaminasi sistem pendingin dan memengaruhi kualitas udara di dalam kabin.
4. Rute penerbangan harus dialihkan
Abu vulkanik dapat terbawa angin hingga jauh dari sumber letusan dan masuk ke jalur penerbangan. Jika pesawat berada di jalur yang terkena sebaran abu, pilot perlu mengubah arah penerbangan untuk menghindari awan abu tersebut. Pengalihan ini dilakukan agar pesawat tetap berada di jalur yang aman dan tidak terpapar abu vulkanik.
Baca Juga:Jangan Dibiarkan Terlalu Lama! Berapa Lama Abu Vulkanik Bisa Merusak Cat Mobil?Jangan Dianggap Sepele, Inilah Mengapa Abu Vulkanik Lebih Berbahaya dari Asap Biasa?
Perubahan rute dapat membuat perjalanan menjadi lebih jauh karena pesawat harus mengambil jalur lain untuk menghindari area yang dipenuhi abu. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak letusan gunung berapi dapat dirasakan oleh pesawat yang berada jauh dari lokasi letusan, terutama ketika abu terbawa angin menuju jalur penerbangan.
5. Aktivitas penerbangan dapat terganggu dalam skala luas
Ketika sebaran abu vulkanik mencapai ruang udara di sekitar bandara, aktivitas penerbangan dapat dihentikan sementara demi keselamatan. Kondisi ini kemudian memicu penundaan dan pembatalan penerbangan dalam jumlah besar. Dampaknya bahkan bisa meluas ke berbagai kota dan penerbangan internasional, karena satu gangguan dapat memengaruhi jadwal penerbangan lainnya.
Gangguan tersebut tidak hanya dirasakan oleh maskapai, tetapi juga oleh banyak penumpang yang perjalanan mereka ikut tertunda atau dibatalkan. Dalam kasus sebaran abu Anak Krakatau, lebih dari 22.000 penumpang dan 209 penerbangan terdampak. Hal ini menunjukkan bahwa abu vulkanik dari satu letusan dapat mengganggu aktivitas penerbangan dalam skala luas, bahkan hingga lintas negara.
