Jangan Curhat Masalah Mental ke AI, Kemenkes: Risikonya Bahaya!

foto
ilustrasi/ gemini ai
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan menjadikan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) seperti ChatGPT sebagai tempat curhat, terutama terkait masalah kesehatan mental.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, memperingatkan bahwa jawaban yang diberikan AI cenderung menuruti kemauan pengguna alias people pleaser.

AI akan membaca pola percakapan lalu memberikan respons yang disukai penggunanya, bukan yang objektif secara medis.

Baca Juga:Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo Bakal Main Satu Tim di Laga Perpisahan Carlos TevezPersik Kediri Waspadai 2 Bintang Garudayaksa FC, Ada Eks Persija Jelang Laga di Pakansari

“AI itu kan belajar, mereka menganalisis diri kita dulu. Jadi mereka kayak people pleaser. Jadi dia akan menganalisis dulu, ini dia kayak apa nih? Jadi kalau dia sifatnya kayak gini, dia akan memberikan informasi yang membuat saya senang. Itu yang membuat kita bahaya,” terang Imran dalam acara Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia di Gedung Kemenkes, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Imran juga menyoroti maraknya anak muda yang suka menebak kondisi psikologisnya sendiri (self-diagnosis) menggunakan aplikasi AI. Menurutnya, tes mandiri lewat digital hanya berfungsi sebagai deteksi awal, bukan alat diagnosis pasti.

“Begitu kita melakukan self-assessment, dengan satu set atau apa gitu ya, itu kita jangan kemudian men-judge, bahwa itu adalah diagnosisnya. Jadi tetap harus ketemu dengan psikolog, psikiater, atau dokter untuk memastikan. Jangan self-diagnose,” tegasnya.

Menurut Imran, salah mendiagnosis diri sendiri justru berisiko membuat seseorang memaklumi perilaku negatif dengan alasan gangguan mental yang belum tentu benar.

Senada dengan hal itu, psikolog Annelia Sari Sani menyebut AI tidak dirancang untuk membantah pikiran negatif penggunanya.

Jika seseorang yang sedang depresi curhat ke AI tanpa pendampingan profesional, jawaban AI justru berpotensi memberi sugesti yang berbahaya.

Sementara itu, Dr. Sandersan Onie menambahkan bahwa kelemahan utama AI adalah memberikan jawaban yang cepat namun belum tentu akurat.

Baca Juga:Apple Rilis iPhone 18 Pro Series dan iPhone Duo HP Lipat Pertama, Harganya Tembus Rp60 JutaanSama-sama dari Kedelai, Mana yang Lebih Bergizi Antara Tempe dan Tahu?

“Seringkali AI memberikan kita jawaban yang cepat. Tapi tidak tentu memberikan jawaban yang benar. Dan masalah dengan AI itu kata-katanya manis sekali,,” ujarnya.

Masyarakat yang merasa sedang menghadapi masalah kesehatan mental diimbau untuk segera berkonsultasi langsung dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.

0 Komentar