RADARCIREBON.TV – Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir, menyatakan akan kembali melarang suporter datang ke tribun buntut penyerangan antara dua kelompok pendukung pada akhir pekan lalu. Meski begitu, ia tetap memberikan keringanan kepada operator liga dan klub yang bersangkutan agar menemui titik tengah. Jika sampai waktu yang diberikan belum menemui titik terang, federasi siap mengambil alih permasalahan tersebut.
“Ya, saya akan kasih kesempatan liga, klub untuk bersepakat satu minggu ini. Kalau tidak ada kesepakatan, ya kami PSSI akan intervensi, ya jangan-jangan tidak ada lagi, ya suporter away lagi,” ungkap Erick di Jakarta pada Selasa (13/10/2026).
Selain itu, Erick juga tidak segan-segan untuk mengurangi poin yang sudah diperoleh kedua klub itu. “Dan saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya, pengurangan poin sekarang,” tegas dia.
Baca Juga:Bertemu di Jakarta, Indonesia dan Mesir Satu Suara Dukung Kemerdekaan PalestinaKarhutla Belum Padam Sejak Agustus, Pemerintah Kerahkan Satgas Darat dan Udara
Dua Insiden Penyerangan dalam Sepekan
Peringatan itu muncul setelah terjadinya dua insiden penyerangan yang melibatkan kelompok suporter dalam perjalanan mendukung tim kesayangan mereka. Insiden pertama melibatkan oknum suporter The Jakmania yang menyerang rombongan bus tim Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 di Rest Area KM 360 Tol Batang, Jawa Tengah.
Tak berselang lama, insiden penyerangan kembali terjadi. Rombongan Jakmania Cikampek dikabarkan menjadi korban penyerangan di Tol Palikanci KM 200 pada Senin (12/10/2026) dini hari WIB. Rombongan tersebut sedang dalam perjalanan pulang setelah mendukung Persija Jakarta saat menghadapi PSIM Yogyakarta.
Rentetan kejadian ini menjadi perhatian serius PSSI karena kekerasan antarsuporter tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga berpotensi merusak upaya pembenahan sepak bola Indonesia. Ancaman tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan kekerasan suporter tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah sepele. PSSI ingin klub bertanggung jawab atas upaya menjaga keamanan dan mencegah tindakan anarkistis yang dapat membahayakan suporter maupun pihak lain.
