3. Treadmill sebagai alat hukuman di penjara
Salah satu bagian paling kelam dalam sejarah treadmill terjadi pada abad ke-19. Pada 1817, insinyur Inggris William Cubitt memperkenalkan tread-mill yang dirancang untuk membuat para narapidana melakukan kerja fisik berat. Bentuknya lebih mirip roda besar dengan pijakan di bagian luar, sehingga para narapidana harus terus melangkah untuk membuat roda berputar.
Para narapidana yang mendapat hukuman kerja paksa dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk berjalan di atas alat tersebut. Dalam beberapa kasus, treadmill digunakan untuk menghasilkan tenaga yang kemudian dimanfaatkan untuk memompa air atau menggiling biji-bijian. Namun, ada pula treadmill yang pekerjaannya memang tidak menghasilkan sesuatu dan digunakan terutama sebagai bentuk hukuman.
Kondisi tersebut membuat pekerjaan di treadmill sangat melelahkan dan berat. Narapidana dapat berjalan selama sekitar enam jam sehari dengan jarak vertikal yang sangat tinggi jika dihitung seperti aktivitas menaiki tangga. Penggunaan penal treadmill kemudian dihentikan di Inggris pada 1902, dan fungsi treadmill perlahan mulai bergeser dari alat kerja serta hukuman menuju keperluan medis dan olahraga.
Baca Juga:Satu Aplikasi untuk Belanja dan Pesan Taksi, Beginilah Cara Order Bluebird via ShopeeJadwal Liga Inggris 2026/2027 Malam Ini: Pertandingan Brentford vs Liverpool Main Jam Berapa dan Live TV Apa?
4. Treadmill mulai berkembang untuk keperluan medis
Setelah era treadmill sebagai alat hukuman berakhir, perkembangannya mulai mengarah ke fungsi yang lebih konstruktif. Pada 1911, Claude Lauraine Hagen mengajukan paten untuk sebuah training-machine yang sudah menggunakan sabuk treadmill. Desainnya dilengkapi sejumlah fitur yang cukup maju untuk zamannya, seperti pegangan yang dapat disesuaikan, pengaturan kemiringan, serta rancangan yang memungkinkan alat dilipat.
Perubahan besar terjadi pada 1952 ketika ahli jantung Dr. Robert Bruce bersama Wayne Quinton mengembangkan treadmill bermotor untuk pemeriksaan kondisi jantung dan paru-paru. Pasien dapat berjalan atau berlari di atas treadmill dengan kecepatan dan kemiringan yang dinaikkan secara bertahap, sementara aktivitas jantung dipantau menggunakan elektrokardiogram atau ECG.
Metode pemeriksaan tersebut kemudian dikenal sebagai Bruce Protocol dan digunakan untuk mengevaluasi respons jantung terhadap aktivitas fisik. Penggunaan treadmill dalam bidang medis menjadi salah satu langkah penting yang kemudian membuka jalan bagi pemanfaatannya sebagai alat latihan fisik.
