Para pekerja tersebut terus bertambah. Di sisi lain tidak ada penjual nasi di sana. Kepercayaan saat itu, tidak baik atau pamali jual nasi. Masyarakat saat itu lebih baik menyimpan beras daripada beli nasi.
Namun seiring waktu banyak pekerja mencari warung nasi. Sampai akhirnya tergerak warga Jamblang bernama Ki Antara atau H Abdul Latif dan istrinya Ny Pulung atau Tan Piauw Lun.
Keduanya bersodaqoh makanan untuk sarapan para pekerja tiap harinya. Mereka menggunakan daun jati untuk membungkus nasinya.
Baca Juga:Warung Pojok; Lagu Daerah Cirebon yang MelegendaMelintasi Waktu Lewat Wisata Daerah Cirebon yang Bersejarah
Dari mulut ke mulut informasi itu menyebar. Akhirnya banyak pekerja yang makan di sana. Meski awalnya gratis, para pekerja merasa tidak enak. Kemudian akhirnya, mereka pun sepakat memberikan sukarela untuk makanan yang mereka makan.
Dari sana lah Sega Jamblang akhirnya dijual oleh banyak orang. Tidak hanya warga Desa Jamblang, tapi warga Cirebon lainnya. Termasuk juga di kota besar seperti Jakarta, pengusaha Sega Jamblang berjualan.
Menu Lauk Nasi Jamblang
Biasaya sobat bisa menemui warung nasi jamblang di tenda-tenda sepanjang jalan atau di sebuah restoran dan rumah makan. Semuanya sama menjual nasi jamblang, hanya saja mungkin di beberapa tempat tidak lagi menggunakan daun jati sebagai alas piringnya.
Selain penyajian yang menggunakan daun jati, untuk mengambil lauknya pembeli di bebaskan untuk mengambil sebab kebanyakan penjual nasi jamblang menggunakan sistem prasmanan.
Masih dari indonesia.go.id, lauk yang disajikan sebagai pelengkap Sega Jamblang banyak pilihannya. Mulai sambal goreng, tahu sayur, paru-paru, semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar atau telur goreng, semur ikan, ikan asin, tahu tempe, dan lainnya.
Dari sekian menu yang harus di coba adalah sambel goreng. Cabai merah dengan rasa khas. Lainnya adalah balakutak hidueng. Makanan cumi-cumi atau sotong berkuah kental itu di masak bersama dengan tintanya. Jadi masakan berwarna hitam seperti rawon.
Memang, sensasi nasi yang di bungkus daun jati, terasa. Nasi sangat pulen. Apalagi, sebelum di santap, nasi disiram kuah semur. Nendang di lidah. Pantas saja, ada warga Jakarta yang pertama kali makan Sega Jamblang, mengaku, nasinya bikin ngantuk saking pulennya. Jadi, wajib dicoba.