“Super League tetaplah proyek egois yang hanya melayani kepentingan segelintir klub kaya. Sepak bola bukan hanya tentang uang dan popularitas; ini tentang semangat kompetisi yang adil,” tegas Ceferin.
Format Baru Liga Champions: Sistem Swiss dan Dampaknya
Liga Champions 2024/2025 sudah menggunakan format baru dengan sistem “Swiss Model”. Dalam sistem ini, jumlah klub peserta meningkat dari 32 menjadi 36 tim. Setiap tim kini memainkan delapan pertandingan fase liga melawan lawan yang berbeda, bukan lagi enam laga di fase grup seperti sebelumnya. Empat tim teratas otomatis lolos ke babak 16 besar, sementara posisi 9 hingga 24 akan menjalani babak playoff tambahan untuk memperebutkan tiket ke fase gugur.
Format ini bertujuan memberikan lebih banyak pertandingan bergengsi, meningkatkan pendapatan siaran, dan memperluas kesempatan bagi klub dari liga-liga kecil untuk bersaing. UEFA menilai format ini adalah solusi kompromi yang menguntungkan semua pihak, baik klub besar maupun kecil tanpa mengorbankan prinsip keterbukaan.
Baca Juga:Netflix Mau Beli Hak Siar Liga Champions, UEFA Siap Cuan Besar!Desakan Keras Amnesty International: FIFA dan UEFA Diminta Sanksi Israel Atas Pelanggaran Hukum Internasional
Namun, bagi beberapa klub elit Eropa, seperti Real Madrid dan Barcelona, format ini belum cukup menjawab keluhan mereka tentang distribusi pendapatan. Mereka menilai klub dengan basis penggemar global semestinya mendapatkan porsi lebih besar dari pendapatan hak siar, mengingat kontribusi mereka dalam menarik penonton.
•Tekanan dari Klub-Klub Elit
Sumber internal UEFA mengungkapkan bahwa dalam pertemuan terakhir di Jenewa, perwakilan dari dua klub besar Eropa mencoba melobi agar UEFA mempertimbangkan pembagian pendapatan yang lebih “proporsional” dengan nilai komersial masing-masing klub. Namun, proposal itu ditolak mentah-mentah.
“UEFA tidak akan membuat sistem dua kelas di Liga Champions. Kami menolak segala bentuk monopoli oleh klub-klub besar. Nilai sejati kompetisi ini justru terletak pada keberagaman dan kejutan,” ungkap seorang pejabat senior UEFA yang enggan disebut namanya.
Sementara itu, Asosiasi Klub Eropa (ECA), yang mewakili lebih dari 200 klub dari berbagai liga, juga menyatakan dukungannya terhadap sikap tegas UEFA. Dalam pernyataan resminya, ECA menegaskan bahwa mayoritas klub tidak tertarik untuk bergabung dengan proyek Super League yang dianggap sudah gagal sejak awal.
