Apa Penyebab Plastik Makin Mahal? Bahan Utama Ini Bikin Harga Tak Lagi Stabil

Apa Penyebab Plastik Makin Mahal?
Plastik beragam warna. Source: pinterest
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Lonjakan harga plastik belakangan ini menjadi sorotan karena dampaknya yang meluas hingga ke berbagai sektor kehidupan. Tidak hanya industri besar, pelaku UMKM hingga konsumen rumah tangga ikut merasakan efek domino dari kenaikan harga bahan baku ini. Plastik yang selama ini menjadi komponen utama dalam kemasan dan berbagai kebutuhan sehari-hari kini mengalami kenaikan signifikan, bahkan dilaporkan mencapai 40 persen hingga 100 persen di sejumlah jenis produk per April 2026.

Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Faktor utama yang mendorong mahalnya harga plastik berasal dari gejolak global, khususnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan di wilayah tersebut berdampak langsung pada distribusi energi dunia, terutama minyak bumi yang menjadi bahan dasar pembuatan plastik. Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz membuat pasokan minyak tersendat, sehingga harga minyak mentah melonjak dan berimbas pada naiknya biaya produksi plastik.

Selain itu, bahan baku utama plastik yaitu nafta juga mengalami lonjakan harga yang signifikan. Nafta merupakan turunan minyak bumi yang diolah menjadi senyawa penting seperti etilena dan propilena, yang kemudian digunakan dalam produksi berbagai jenis plastik. Ketika harga nafta naik tajam akibat terganggunya pasokan global, maka biaya produksi plastik ikut terdongkrak secara otomatis.

Baca Juga:Kemensos Perbarui Data Bansos April 2026, 25.000 Keluarga Bertambah, Cek Status Anda Sekarang!PLN Kasih Diskon Listrik 50 Persen Lagi di April 2026, Begini Cara Klaim Lewat HP

Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku dari Timur Tengah memperparah kondisi ini. Sekitar 60 hingga 70 persen pasokan nafta berasal dari kawasan tersebut, sehingga ketika terjadi gangguan distribusi, dampaknya langsung terasa di dalam negeri.

Di lapangan, kenaikan harga plastik terlihat jelas. Harga plastik kresek misalnya, mengalami kenaikan dari sekitar Rp10.000 menjadi Rp15.000 per pak. Plastik ukuran besar bahkan melonjak hingga dua kali lipat. Sementara itu, plastik tahan panas juga mengalami kenaikan tajam yang cukup membebani pelaku usaha, khususnya di sektor makanan dan minuman.

Dampak dari mahalnya plastik tidak berhenti di sektor industri saja, tetapi juga mulai merembet ke bahan pokok. Salah satu yang terdampak adalah beras, terutama beras kemasan. Kenaikan harga plastik sebagai bahan pembungkus membuat biaya distribusi meningkat, yang akhirnya mendorong harga jual beras di pasaran ikut naik. Selain itu, berbagai produk makanan kemasan, kantong belanja, hingga perlengkapan sekali pakai juga mengalami penyesuaian harga.

0 Komentar