Tradisi Sedekah Gentong Air di Kab. Cirebon – Video

Tradisi Sedekah Gentong Air di Kab. Cirebon
0 Komentar

Pada setiap musim haji, ada hal menarik di rumah calon jamaah haji di Kabupaten Cirebon. Keluarga yang ditinggalkan, menaruh gentong berisi penuh air lengkap dengan gelasnya dan batok kelapa untuk diminum oleh masyarakat yang melintas. Selama empat puluh hari keberangkatan hingga kepulangan.

Beginilah aktivitas keluarga Kakek Slamet, jamaah calon haji asal Desa Suranenggala Kidul, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Sejak berangkat haji pada tiga puluh April kemarin, keluara jamaah calon haji tersebut menyiapkan gentong dan menaruhnya di halaman rumah. Setiap pagi dan sore, gentong yang berisi air putih tersebut diisi ulang setelah berkurang dikonsumsi warga dan tetangga yang melintas. Kebiasaan menarik ini, sudah menjadi tradisi bagi sebagian wilayah di Cirebon yang anggota keluarganya pergi haji.

Tradisi yang masih terjaga sejak ratusan tahun silam ini dijadikan sebagai tanda, jika terdapat gentong di halaman rumah, sang pemilik rumah tengah melakukan ibadah haji. Selain menaruh gentong, keluarga juga menggelar rutinan yasin setiap malam dengan diikuti keluarga besar jamaah haji. Selain sebagai bentuk sedekah juga mendekatkan diri kepada yang kuasa agar ibadah haji berjalan lancar dan mabrur hingga pulang kembali ke tanah air.

Baca Juga:Kabupaten Cirebon Masih Krisis Kantong Parkir – VideoSulap Sampah Organik Jadi Eco Enzyme – Video

Air di dalam gentong, yang diperuntukan bagi warga yang melintas ini, merupakan bentuk amalan keluarga dirumah yang ditujukan untuk sanak saudaranya yang tengah menunaikan rukun islam kelima. Mulai dari anak-anak, hingga para orang tua menikmati air yang di yakini mampu memberikan barokah ini. Tak jarang, warga yang meminum air ini berharap dapat mengikuti jejak menunaikan rukun islam ke lima.

Kakek Slamet sendiri merupakan lansia berusia tujuh puluh enam tahun, yang berangkat pada tiga puluh April kemarin usai menabung dan mendaftar haji pada awal dua rubu sebelas. Kakek Slamet yang berniat berangkat bersama istrinya tersebut, akhirnya pergi haji seorang diri setelah sang istri ditunda keberangkatannya karena beberapa faktor. Sementara, gentong haji baru akan dibawa ke dalam rumah setelah jamaah tiba di tanah air atau sekira empat puluh harian.

0 Komentar