RADARCIREBON.TV– Meskipun Chelsea harus mengakui keunggulan Manchester City dengan skor tipis 0-1 di final Piala FA akhir pekan lalu, ada satu hal menarik yang diam-diam mencuri perhatian publik Stamford Bridge. Penggunaan formasi 3-4-2-1 oleh pelatih interim Calum McFarlane dianggap sebagai gambaran awal bagaimana Chelsea akan bermain di bawah asuhan Xabi Alonso musim depan. Kekalahan ini bukan sekadar akhir dari musim yang penuh gejolak, melainkan pintu pembuka era baru bagi The Blues dengan racikan taktik segar dari pelatih asal Spanyol tersebut.
Di tengah persiapan menyambut manajer anyar yang akan resmi memulai tugasnya pada 1 Juli 2026, publik mulai tancap gas menganalisis gaya main Alonso yang sukses membawa Bayer Leverkusen meraih gelar Bundesliga dan DFB Pokal tanpa terkalahkan. Tidak hanya mengandalkan skema 3 bek yang sudah diuji coba McFarlane, para pengamat juga bergerak mencari tahu apakah skuad Chelsea saat ini benar-benar cocok dengan sistem yang identik dengan pressing agresif dan organisasi rapi itu.
Formasi 3-4-2-1 Jadi Identitas Alonso di Leverkusen
Kesuksesan Xabi Alonso bersama Bayer Leverkusen tidak bisa dilepaskan dari formasi 3-4-2-1 yang menjadi fondasi permainan mereka sepanjang musim 2023/2024. Dengan sistem itu, Leverkusen menjuarai Bundesliga dan DFB Pokal serta hanya kalah sekali dari 53 pertandingan di semua kompetisi. Skuad asuhannya bermain dengan pressing tinggi, dominasi penguasaan bola, dan organisasi yang sangat rapi. Setiap pemain memiliki fungsi spesifik yang mendukung penguasaan bola secara vertikal.
Baca Juga:Xabi Alonso Tak Mulai dari Nol di Chelsea, Final FA Cup Jadi BuktinyaEra Baru Chelsea: 5 Bintang yang Bisa Bersinar di Bawah Xabi Alonso
Dalam skema ini, tiga bek tengah menjadi motor awal serangan. Dua bek tengah di sisi kanan dan kiri dituntut mampu mengalirkan bola, sementara satu bek lain lebih berperan secara fisik dan defensif. Yang paling menonjol dalam sistem ini adalah peran wing-back. Alejandro Grimaldo di sisi kiri menjadi kreator utama permainan, sementara Jeremie Frimpong di kanan sering muncul sebagai pemain paling depan. Keduanya mencatat kombinasi 19 gol dan 20 assist di Bundesliga musim itu.
Di Leverkusen, formasi 3-4-2-1 milik Alonso sangat cair dan dinamis. Dalam fase penguasaan bola, formasi dapat berubah menjadi 3-2-5 atau 4-3-3 dengan full-back yang asimetris. Di sisi lain, Alonso tidak pernah terpaku pada satu sistem kaku. Ia dikenal memiliki fleksibilitas taktis dengan preferensi terhadap sistem 4-3-3 atau 3-4-2-1 tergantung karakteristik pemain yang dimilikinya.
