Bank Indonesia ke depan berkomitmen mengelola cadangan devisa secara terukur. Tujuannya untuk menghadapi tingginya ketidakpastian global serta menjaga kepercayaan pasar eksternal.
Rupiah Berulang Kali Cetak Rekor Terendah
Sepanjang bulan Mei 2026, nilai tukar rupiah berulang kali mencatatkan rekor terendah baru. Kondisi ini memicu kepanikan di sebagian masyarakat.
Berikut catatan pelemahan rupiah sepanjang Mei 2026:
- 5 Mei 2026: Rupiah menyentuh level Rp17.400 per dollar AS
- 12 Mei 2026: Merosot ke Rp17.500 per dollar AS
- 15 Mei 2026: Melemah lagi ke posisi Rp17.600 per dollar AS
- 19 Mei 2026: Berdasarkan data Bloomberg pukul 13.59 WIB, rupiah terus melemah 0,34 persen ke Rp17.729 per dollar AS
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh sejumlah faktor eksternal. Konflik Timur Tengah yang memanas, kenaikan harga minyak dunia, serta ekspektasi inflasi AS menjadi biang kerok utama.
Baca Juga:Rupiah Sentuh Rp17.728 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Inflasi AS Jadi Biang KerokBreaking! IHSG Turun Tajam 2% Lebih, Rupiah Melemah, Sentimen Global Memburuk
Selain itu, aksi repatriasi dividen perusahaan ke luar negeri juga menambah permintaan dollar AS di dalam negeri.
Langkah BI ke Depan
Bank Indonesia diprediksi akan terus melakukan intervensi selama rupiah masih tertekan. Kombinasi antara intervensi spot dan instrumen derivatif akan terus digunakan.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik menghadapi pelemahan rupiah. BI dan pemerintah terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Yang terpenting, cadangan devisa Indonesia masih dalam level aman. Negara masih memiliki bantalan untuk menghadapi guncangan eksternal.
