RADARCIREBON.TV – Mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah tajam pada perdagangan Senin (18/5/2026). Merujuk data Refinitif, mata uang Garuda dibuka di zona merah.
Rupiah melemah hingga 0,97 persen dan terdepresiasi ke level Rp 17.630 per dolar AS. Angka ini naik dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pada Rabu (13/5/2026), rupiah sempat ditutup menguat di level Rp 17.460 per dolar AS sebelum libur panjang. Namun setelah libur, tekanan kembali terasa.
Baca Juga:Rupiah Anjlok ke Rp 17.675 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah dan Selat Hormuz Jadi Biang KerokRupiah Kian Melemah, Harga Laptop dan HP di Indonesia Terancam Naik
Salah satu sektor yang paling terdampak dari pelemahan rupiah adalah kebutuhan impor energi di Indonesia. Negara ini masih sangat bergantung pada impor minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM) jadi, dan liquefied petroleum gas (LPG).
Tingginya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu inflasi nilai impor, potensi defisit neraca perdagangan, hingga penurunan daya beli masyarakat. Harga energi di dalam negeri berpotensi naik.
Lantas berapa data impor minyak mentah, BBM, hingga LPG Indonesia? Berikut rinciannya.
Impor Minyak Mentah Indonesia Terus Meningkat
Mengutip data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024, produksi minyak mentah Indonesia terus mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2024, produksi minyak tercatat sebesar 212,33 juta barel atau setara sekitar 581 ribu barel per hari. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang masih di atas level tersebut.
Sementara itu, ekspor minyak mentah Indonesia relatif kecil. Sepanjang 2024, ekspor tercatat hanya mencapai 27,2 juta barel.
Sebaliknya, impor minyak mentah mencapai 127,79 juta barel. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan ekspor.
Baca Juga:Konsistensi Bawa Arsenal di Puncak, Arteta: Kami Ingin Finis di Posisi Ini Lebih dari Sebelumnya!Tata Cara Nonton Arsenal vs Burnley, Bisa di Vidio dan Champions TV!
Data menunjukkan adanya tren peningkatan impor dalam lima tahun terakhir. Pada 2020, impor minyak mentah tercatat sebesar 79,68 juta barel.
Angka tersebut meningkat menjadi 104,40 juta barel pada 2021, naik lagi menjadi 114,52 juta barel pada 2022, dan mencapai 132,38 juta barel pada 2023.
Impor BBM Bensin dan Solar
Mengacu data Kementerian ESDM per 1 April 2026, impor BBM jenis bensin Indonesia terbesar masih berasal dari Singapura. Presentasenya mencapai 64,23 persen.
Lalu Malaysia dengan porsi 27,18 persen. Sementara kontribusi negara lain relatif kecil seperti Oman 5,55 persen dan Uni Emirat Arab 3,03 persen.
