Jawaban Kompak Purbaya hingga Bahlil soal Badan Ekspor, Pemerintah Diminta Segera Beri Kepastian

Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan kepada wartawan usai rapat bersama sejumlah perusahaan di Jakarta. foto : pinterest
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Isu pembentukan badan ekspor baru oleh pemerintah mulai menjadi perhatian pelaku usaha dan pasar. Sejumlah menteri seperti Purbaya Yudhi Sadewa, Bahlil Lahadalia, hingga Rosan Roeslani kompak memberikan jawaban singkat saat ditanya terkait rencana tersebut.

Usai menghadiri rapat bersama sejumlah perusahaan China di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Selasa (19/5/2026), Purbaya meminta publik menunggu pengumuman resmi pemerintah.

“Udah, nunggu besok aja ya,” ujar Purbaya singkat kepada wartawan.

Baca Juga:BPS Catat Ekspor Nonmigas RI ke AS Naik 5,97% Pada Februari 2026Harga Perak Dunia Turun Tipis usai Melonjak 2 Persen, Investor Waspadai Yield Obligasi AS

Jawaban serupa juga disampaikan Rosan Roeslani. Menteri Investasi dan Hilirisasi itu memilih irit bicara dan meminta publik bersabar menunggu penjelasan resmi pemerintah.

Sementara itu, Bahlil Lahadalia juga tidak memberikan detail tambahan terkait isu pembentukan lembaga baru tersebut.

“Tunggu aja, ya,” kata Bahlil.

Isu Badan Ekspor Jadi Sorotan

Isu yang berkembang menyebut pemerintah tengah menyiapkan badan khusus yang berfungsi memusatkan aktivitas ekspor komoditas tertentu. Langkah ini disebut berkaitan dengan strategi memperkuat daya saing ekspor nasional di tengah pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.

Wacana tersebut langsung menarik perhatian pelaku industri karena dinilai dapat memengaruhi tata kelola ekspor nasional, terutama untuk sektor energi, mineral, hingga komoditas strategis lainnya.

Meski belum diumumkan secara resmi, pasar mulai berspekulasi bahwa badan ekspor itu akan memiliki fungsi mirip sovereign export agency yang bertugas mengendalikan stabilitas perdagangan luar negeri.

Pelemahan Rupiah Dinilai Bisa Jadi Peluang

Di tengah isu tersebut, ekonom Eddy Junarsin dari Universitas Gadjah Mada menilai pelemahan rupiah sebenarnya tidak selalu berdampak negatif.

Menurut Eddy, depresiasi rupiah justru dapat membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global karena harga barang ekspor menjadi lebih murah dibanding negara lain.

Baca Juga:Harga Emas Dunia Naik Tipis di Tengah Lonjakan Yield Obligasi AS dan Konflik Iran

“Produk dalam negeri bisa menjadi lebih kompetitif untuk diekspor,” ujarnya.

Ia juga menilai kondisi ini dapat membuka peluang peningkatan lapangan kerja di sektor produktif, khususnya industri berorientasi ekspor yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS.

Namun di sisi lain, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor tetap menghadapi tekanan biaya produksi akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

0 Komentar