RADARCIREBON.TV– Gelombang hengkangnya brand lokal dari platform e-commerce besar seperti Shopee dan TikTok Shop semakin masif terjadi pada pertengahan 2026 ini. Fenomena ini bukan sekadar perpindahan penjual biasa, melainkan potret nyata bahwa para pelaku UMKM mulai jenuh dengan biaya layanan yang terus merangkak naik dan memilih untuk membangun kanal penjualan mandiri demi mempertahankan marjin keuntungan mereka.
Di tengah gempuran kebijakan baru dari kedua platform yang memberlakukan biaya logistik dan komisi dinamis, para brand lokal mulai tancap gas melakukan eksodus. Tidak hanya mengandalkan satu pintu, mereka juga bergerak mencari terobosan dengan menggenjot penjualan melalui situs resmi, sosial media, hingga toko offline di dunia nyata.
Deretan Biaya Baru yang Memicu Kepergian
Akar masalah dari gelombang hengkang ini bermula dari kebijakan anyar yang diterapkan oleh marketplace pada awal Mei 2026. TikTok Shop resmi memberlakukan biaya layanan logistik untuk seluruh pesanan baru mulai 1 Mei 2026. Kebijakan ini mencakup biaya pemrosesan pesanan hingga koordinasi logistik, yang besaran biaya logistiknya bervariasi tergantung pada berat paket dan jarak tempuh.
Baca Juga:UMKM Ramai-Ramai Tinggalkan Shopee dan TikTok Shop, Benarkah Mengganggu Pertumbuhan E-Commerce?Bosan dengan Foto Biasa? Yuk Coba Prompt AI Edit Foto Gaya Krayon yang Lagi Hits di TikTok dan Instagram!
Kenaikan yang lebih drastis terjadi pada skema komisi. Mulai 18 Mei 2026, TikTok Shop memberlakukan sistem ‘Biaya Komisi Dinamis’, di mana batas maksimal komisi per produk melonjak drastis dari sebelumnya hanya Rp40.000 menjadi hingga Rp650.000 per item. Kenaikan fee juga terjadi pada berbagai kategori produk; misalnya untuk kategori kecantikan dan perlengkapan bayi naik dari 4 persen menjadi 7 persen, hingga kategori sepatu yang melonjak dari 5 persen menjadi 8 persen.
Dari kubu kompetitor, Shopee juga melakukan penyesuaian. Mulai 2 Mei 2026, mereka mengubah tarif layanan program gratis ongkir dan mulai membedakan tarif berdasarkan ukuran produk, di mana produk berukuran khusus dikenakan biaya yang lebih besar dari biasanya. Situasi biaya tinggi dan tidak menentu ini yang kemudian menjadi pemicu hengkangnya para pedagang.
idEA: Tren Hybrid Commerce Sudah Tak Terelakkan
Menanggapi fenomena tersebut, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) buka suara dan menilai bahwa fenomena ini bukanlah sesuatu yang instan. Sekretaris Jenderal idEA Budi Primawan mengatakan bahwa tren ini sudah terjadi seiring dengan makin banyaknya merek yang mulai membangun kanal penjualan mandiri di luar marketplace.
