UMKM Ramai-Ramai Tinggalkan Shopee dan TikTok Shop, Benarkah Mengganggu Pertumbuhan E-Commerce?

Pedagang menjual produk pakaian secara siaran langsung (live) melalui fitur Shop Tokopedia di aplikasi TikTok
Pedagang menjual produk pakaian secara siaran langsung (live) melalui fitur Shop Tokopedia di aplikasi TikTok Sumber img:@inari.indonesia
0 Komentar

RADARCIREBON.TV-Fenomena hengkangnya sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari platform e-commerce seperti Shopee dan TikTok Shop mulai menjadi sorotan publik. Banyak penjual mengaku penjualan mereka semakin sulit berkembang akibat persaingan harga yang terlalu ketat, biaya layanan meningkat, hingga perubahan algoritma platform yang dinilai kurang menguntungkan bagi pelaku usaha kecil.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah UMKM memilih beralih ke penjualan mandiri melalui media sosial, website pribadi, hingga marketplace lokal yang dianggap lebih ramah terhadap penjual kecil. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah hengkangnya UMKM dapat memengaruhi pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia?

UMKM selama ini menjadi tulang punggung ekosistem perdagangan digital nasional. Kehadiran jutaan pelaku usaha kecil membantu menciptakan variasi produk, meningkatkan transaksi harian, serta memperkuat ekonomi digital di berbagai daerah. Ketika banyak UMKM mulai meninggalkan marketplace besar, dampaknya tentu tidak bisa dianggap sepele.

Baca Juga:Skincare Viral TikTok Shop Mei 2026, Ini Produk yang Paling Banyak Diburu NetizenBosan dengan Foto Biasa? Yuk Coba Prompt AI Edit Foto Gaya Krayon yang Lagi Hits di TikTok dan Instagram!

Salah satu alasan utama hengkangnya UMKM adalah perang harga yang semakin tidak sehat. Banyak penjual merasa sulit bersaing dengan toko besar maupun produk impor murah yang membanjiri platform digital. Akibatnya, margin keuntungan semakin tipis bahkan beberapa penjual mengaku mengalami kerugian.

Selain itu, biaya administrasi dan potongan layanan yang terus meningkat juga menjadi keluhan utama. Sebagian pelaku usaha menilai keuntungan mereka habis untuk biaya platform, promosi berbayar, hingga ongkos pengiriman. Situasi ini membuat banyak UMKM mulai mencari alternatif penjualan lain yang lebih menguntungkan.

Di sisi lain, perkembangan fitur live shopping di TikTok turut mengubah pola persaingan bisnis online. Penjual yang mampu membuat konten menarik cenderung lebih mudah mendapatkan pembeli dibanding toko biasa tanpa promosi video. Hal ini membuat sebagian UMKM kesulitan mengikuti tren pemasaran digital yang bergerak sangat cepat.

Meski demikian, pengamat ekonomi menilai pertumbuhan e-commerce nasional belum tentu langsung terganggu secara signifikan. Pasar digital Indonesia masih sangat besar dengan jumlah pengguna internet dan transaksi online yang terus meningkat setiap tahun. Namun jika tren hengkangnya UMKM terus meluas, marketplace besar berpotensi kehilangan keragaman produk lokal yang selama ini menjadi daya tarik utama.

0 Komentar