RADARCIREBON.TV – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.855,5 per dolar AS dan diperkirakan masih berada dalam tekanan kuat hingga berpotensi mendekati level psikologis Rp18.000.
Pelemahan rupiah kali ini menjadi sorotan pasar karena terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global serta tingginya permintaan investor terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (28/5/2026), rupiah sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.906 sebelum akhirnya ditutup di posisi Rp17.845 per dolar AS. Kondisi ini menjadi salah satu pelemahan terdalam rupiah sepanjang sejarah perdagangan modern Indonesia.
Baca Juga:Rupiah Melemah Drastis di 2026: Penyebab, Dampak, dan Apa yang Bisa DilakukanGeopolitik Memanas, Rupiah Rontok dan Dolar AS Melesat Tajam Hari Ini
Berikut gambaran kurs dolar AS terhadap rupiah hari ini:
- Kurs spot pembukaan: Rp17.855,5 per dolar AS
- Kurs NDF luar negeri: Rp17.866 per dolar AS
- Prediksi pergerakan harian: Rp17.830 hingga Rp17.950
- Kurs jual bank: sekitar Rp17.835
- Kurs beli bank: sekitar Rp17.535
Tekanan terhadap rupiah dipicu beberapa faktor utama yang datang bersamaan seperti “badai ekonomi berlapis”.
Faktor penyebab rupiah melemah:
- Konflik geopolitik Timur Tengah kembali memanas setelah serangan militer baru Amerika Serikat ke Iran. Situasi ini membuat investor global mengalihkan dana ke dolar AS.
- Harga minyak dunia melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak ikut terdampak tekanan tersebut.
- Bank sentral AS atau The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini membuat dolar semakin perkasa terhadap mata uang negara berkembang.
- Kekhawatiran pasar terhadap defisit transaksi berjalan Indonesia yang membesar juga memperlemah sentimen investor terhadap rupiah.
Analis pasar menilai level Rp18.000 kini menjadi area psikologis penting. Jika tekanan global terus meningkat dan aliran modal asing keluar dari pasar domestik berlanjut, rupiah berpotensi menembus level tersebut dalam waktu dekat.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu langkah Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar, baik melalui intervensi pasar maupun kebijakan moneter lanjutan.
Pelemahan rupiah biasanya berdampak langsung terhadap berbagai sektor, mulai dari harga barang impor, gadget, bahan bakar, hingga harga emas yang ikut terdorong naik di pasar domestik.
