5 Pemain yang Ganas di Timnas tapi Melempem di Klub, Nomor 5 Raja Gol Piala Dunia

foto
Miroslav Klose (Jerman)/ (foto: FIFA)
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- Bagi seorang pesepak bola, karier Lionel Messi adalah cetak biru yang sempurna. Ia sukses besar di level klub, dan paripurna bersama negaranya.

Mengoleksi delapan Ballon d’Or, Messi sudah memenangkan segalanya bersama Barcelona, dan puncaknya adalah membawa Timnas Argentina merengkuh trofi Piala Dunia 2022 lalu. Di Piala Dunia 2026 ini pun, magis Messi yang kini berusia 38 tahun masih dinanti.

Nasib serupa tapi tak sama dialami rival abadinya, Cristiano Ronaldo. Di usia 41 tahun, Piala Dunia 2026 menjadi panggung terakhir CR7 untuk melengkapi lemari trofinya yang masih minus trofi Piala Dunia bersama Portugal.

Baca Juga:Link DANA Kaget Hari Ini Masih Aktif? Ini Cara Klaim Saldo Gratis Tanpa RibetGary O'Neil Resmi Merapat ke Ipswich, Elkan Baggott Bertahan atau Dipinjamkan Lagi?

Namun, dunia sepak bola tidak selalu adil. Ada fenomena unik di mana seorang pemain mendadak berubah menjadi monster yang menakutkan saat membela negaranya, tetapi justru tampil biasa saja atau bahkan terlupakan ketika bermain untuk klub.

Kasus yang paling segar di ingatan tentu Xherdan Shaqiri. Pemain berusia 34 tahun ini punya CV mentereng di Bayern Munich dan Liverpool, tapi jujur saja, statusnya di sana hanyalah pemain pelapis.

Sebaliknya, begitu pakai jersey Timnas Swiss, Shaqiri adalah nyawa permainan tim. Ia adalah tumpuan Swiss di tiga edisi Piala Dunia (2014, 2018, 2022) dan tiga edisi Euro (2016, 2020, 2024).

Melansir data dari Givemesport, selain Shaqiri, berikut adalah 5 pesepak bola yang punya performa “bipolar”—gila di timnas, tapi melempem di klub:

1. Ali Daei (Iran)

Sebelum rekornya dipecahkan oleh Cristiano Ronaldo, Ali Daei adalah raja gol internasional dengan torehan 109 gol untuk Timnas Iran sepanjang tahun 1992-2006. Di Asia, namanya adalah jaminan mutu.

Sayangnya, ketajaman Daei menguap saat ia merantau ke Eropa. Ketika membela Arminia Bielefeld dan raksasa Jerman, Bayern Munich pada 1997, ia kesulitan bersaing di level tertinggi Eropa. Setelah hengkang ke UEA pada 2002, karier klubnya makin tenggelam, walau taringnya di timnas tetap mengerikan.

2. Breel Embolo (Swiss)

Breel Embolo seperti punya alarm otomatis: ia hanya akan terbangun dari “hibernasi” tepat saat turnamen internasional dimulai. Pada 2016, Embolo sempat digadang-gadang sebagai salah satu talenta muda terbaik dunia.

0 Komentar