RADARCIREBON.TV – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan mata uang Garuda ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global, penguatan dolar AS, serta ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar keuangan dunia.
Pergerakan rupiah yang terus melemah memicu kekhawatiran berbagai kalangan, mulai dari pelaku usaha, investor, hingga pemerintah. Pasalnya, level Rp18.000 per dolar AS selama ini dianggap sebagai salah satu batas psikologis yang cukup penting bagi pasar.
Rupiah Semakin Dekat dengan Level Psikologis Rp18.000
Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang cukup besar terhadap dolar AS. Pada awal Juni 2026, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.966 per dolar AS sebelum akhirnya menembus level Rp18.000 pada perdagangan berikutnya.
Baca Juga:5 Hal yang Terjadi pada Harga Emas Ketika Nilai Tukar Rupiah TertekanBank Indonesia Kuras Cadangan Devisa 10 Miliar Dollar AS demi Selamatkan Rupiah, Ini Penjelasan Perry Warjiyo
Kondisi tersebut membuat rupiah mencatat salah satu posisi terlemah dalam sejarah terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Sejumlah media internasional bahkan turut menyoroti pelemahan rupiah yang dinilai cukup signifikan dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.
Faktor yang Mendorong Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah tidak terjadi tanpa sebab. Berbagai faktor eksternal dan domestik ikut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Penguatan Dolar AS di Pasar Global
Salah satu faktor utama adalah menguatnya dolar AS yang membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketegangan Geopolitik dan Harga Energi
Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga energi dunia. Lonjakan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional dan ikut memperlemah nilai tukar rupiah.
Sentimen Pasar dan Arus Modal
Selain faktor global, sentimen pasar juga berperan besar terhadap pergerakan rupiah. Ketika ketidakpastian meningkat, sebagian investor memilih menarik dana dari pasar negara berkembang sehingga memicu tekanan tambahan terhadap nilai tukar. ([suara.com][3])
Respons Pemerintah dan Otoritas Keuangan
Pelemahan rupiah hingga mendekati atau bahkan menembus level Rp18.000 per dolar AS mendapat perhatian dari pemerintah dan DPR. Beberapa pihak menilai kondisi ini telah melewati batas psikologis yang perlu diwaspadai bersama.
