Krisis Panas di Eropa, Mengapa Warga di Negara Kaya Ini Ogah Pasang AC?

Ilustrasi kota Eropa di tengah gelombang panas
Ilustrasi kota Eropa di tengah gelombang panas foto : pexels
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Barat menyebabkan suhu tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Prancis mengalami hari terpanas sepanjang sejarah, Inggris mencatat rekor panas bulan Juni, dan Spanyol mencapai suhu rata-rata harian tertinggi sejak 1950. Di tengah kondisi yang mematikan ini, sebuah fakta mengejutkan muncul: pendingin ruangan atau AC sangat jarang ditemukan di rumah-rumah di Eropa. Banyak penduduk bertahan menghadapi panas hanya dengan kipas angin, kompres es, dan mandi air dingin. Sementara korban jiwa berjatuhan, muncul pertanyaan besar mengapa negara-negara kaya di Eropa tampak enggan menggunakan teknologi yang sudah umum di belahan dunia lain.

Perbedaan Mencolok: Eropa vs Amerika Serikat

Eropa tidak merespons cuaca panas dengan cara yang sama seperti Amerika Serikat yang secara historis memang lebih panas. Hampir 90 persen rumah di AS memiliki AC, sementara di Eropa hanya sekitar 20 persen. Perbedaan ini sangat mencolok dan menjadi sorotan seiring perubahan iklim yang memicu gelombang panas lebih parah, berkepanjangan, dan datang lebih awal.

Suhu di Eropa kini terus memecahkan rekor. Di Spanyol, suhu rata-rata harian tertinggi sejak 1950 tercatat pada gelombang panas kali ini. Prancis mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah. Inggris pun mencatat rekor panas bulan Juni yang baru. Di tengah kondisi ini, ketiadaan AC bukan lagi sekadar ketidaknyamanan, tetapi telah menjadi masalah kesehatan publik yang serius.

Baca Juga:Rekor Suhu 43,7 Derajat Celsius di Spanyol, Gelombang Panas Tewaskan Lebih dari 200 OrangJadwal Piala Dunia 2026 Dini Hari 21 Juni: Belanda Vs Swedia, Jerman Vs Pantai Gading, Spanyol Vs Arab Saudi

Mengapa Eropa Jarang Menggunakan AC?

Sebagian besar alasannya adalah karena banyak negara Eropa secara historis tidak terlalu membutuhkan pendingin ruangan, terutama di utara. Gelombang panas memang selalu terjadi, tapi jarang mencapai suhu tinggi berkepanjangan seperti yang kini rutin dialami.

“Di Eropa kami tidak memiliki tradisi menggunakan AC karena hingga belum lama ini, hal itu bukanlah sebuah kebutuhan utama,” ujar Brian Motherway, Kepala Kantor Efisiensi Energi dan Transisi Inklusif di International Energy Agency (IEA).

AC secara tradisional dianggap sebagai barang mewah ketimbang kebutuhan, terlebih karena biaya pemasangan dan pengoperasiannya bisa sangat mahal. Biaya energi di banyak negara Eropa lebih tinggi dari AS, sementara tingkat pendapatan cenderung lebih rendah. Biaya menyalakan AC mungkin masih di luar jangkauan banyak orang Eropa.

0 Komentar