BMKG: Indonesia Sudah Masuk Fase El Nino Kuat, Dampaknya Lebih Parah dari 2023

Ilustrasi musim kemarau
Ilustrasi musim kemarau foto: Ilustrasi Gemini AI
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi menyatakan bahwa Indonesia saat ini telah memasuki fase fenomena El Nino dengan kategori kuat. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan hal ini usai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (28/7/2026) malam.

BMKG menjelaskan bahwa El Nino dinyatakan aktif ketika suhu permukaan laut di bagian tengah Samudra Pasifik meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal. Saat ini, indikator tersebut menunjukkan bahwa El Nino telah berada pada level kuat dan bahkan berpotensi semakin menguat hingga akhir tahun. Berdasarkan catatan BMKG, indeks Nino 3.4 dasarian tercatat sebesar +2,26 dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -28,2, yang mengindikasikan El Nino dengan intensitas kuat dan berpotensi menjadi sangat kuat pada periode mendatang.

Fenomena ini diprediksi akan berlangsung hingga awal tahun 2027, dengan peluang mencapai 75 persen untuk kategori sangat kuat. BMKG juga memprakirakan bahwa puncak musim kemarau 2026 umumnya terjadi pada Agustus (48,84 persen) dan berlanjut pada September (25,41 persen).

Baca Juga:Konflik Iran-AS Kembali Memanas: Iran Luncurkan Rudal Balistik, AS dan Saudi Serang Milisi di IrakPrabowo: Semua Pakar Ramalkan Ekonomi RI Lampaui Negara Eropa dalam 25 Tahun

Dampak Lebih Parah dari El Nino 2023

BMKG memperingatkan bahwa dampak El Nino tahun ini diperkirakan akan lebih parah dibandingkan dengan fenomena serupa yang terjadi pada tahun 2023. Pasalnya, intensitas El Nino saat ini sudah lebih tinggi daripada intensitas maksimum El Nino 2023. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan memprediksi El Nino tahun ini akan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah.

Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi kering semakin mendominasi dengan curah hujan kategori rendah mencakup 92,93 persen wilayah Indonesia.

BMKG mencatat bahwa dampak kondisi kering sudah mulai terlihat dari adanya laporan kekeringan pada periode 24–27 Juli 2026 di Jawa Tengah, serta kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Dua Fokus Utama Pemerintah: Ketersediaan Air dan Cegah Karhutla

Dalam rapat terbatas tersebut, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya untuk melakukan langkah-langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa terdapat dua fokus utama dalam menghadapi fenomena ini.

0 Komentar