RADARCIREBON.TV – Kabar duka datang dari program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih tahun 2026. Sebanyak lima peserta dikonfirmasi meninggal dunia selama mengikuti masa orientasi dan latihan bela negara yang digelar di sejumlah satuan pendidikan TNI .
Kementerian Pertahanan (Kemhan) melalui Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, membeberkan kronologi lengkap kejadian ini. Dijelaskan bahwa kelima peserta tersebut meninggal dunia akibat kedaruratan medis yang berbeda-beda, bukan disebabkan oleh perpeloncoan fisik seperti isu yang beredar di masyarakat .
Kronologi dan Penyebab Kematian Lima Peserta
Berdasarkan data yang dirilis Kemhan, para korban meninggal dalam rentang waktu 17 hingga 26 Juni 2026. Berikut rinciannya:
Yonanda Muhammad Taufik
Baca Juga:Ribuan Peserta Ikuti Tes Seleksi Calon SPPI KDKMP Di Kota Cirebon – VideoLangkah Daftar SPPI KDMP Terbaru Peluang Jadi Manajer Koperasi Desa
meninggal pada 17 Juni 2026. Saat mengikuti pengenalan lingkungan di Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatera Selatan, ia mengalami penurunan kesadaran dan dinyatakan meninggal akibat henti jantung (cardiac arrest) .
Hanisha Musyarrafah
meninggal sehari setelahnya, 18 Juni 2026, di Rindam VI/Mulawarman Balikpapan. Ia didiagnosis mengalami heat stroke atau serangan panas ekstrem .
Novia Ramadhani Sihotang
meninggal pada 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, ia meninggal akibat tuberkulosis (TBC) paru aktif yang dideritanya .
Muhammad Rifqi Renaldi Gunawan
meninggal pada 26 Juni 2026. Ia mengeluhkan sesak napas dan setelah mendapatkan perawatan intensif di RS dr. Esnawan Antariksa, dinyatakan meninggal karena pneumonia yang disertai komplikasi hipertensi dan obesitas .
Nola Diasari
meninggal pada hari yang sama, 26 Juni 2026, di RSUD Abdul Aziz Singkawang. Ia mengeluhkan sesak napas dan badan panas saat mengikuti pembelajaran di kelas, lalu mengalami henti jantung .
Kemhan Bantah Isu Perpeloncoan dan Evaluasi Program
Menanggapi insiden ini, Mayjen Ketut menegaskan bahwa seluruh peserta telah dinyatakan lolos seleksi kesehatan yang ketat, mencakup laboratorium darah, rontgen thorax, rekam jantung (EKG), hingga kesehatan jiwa . Ia juga membantah adanya unsur pemaksaan ala militer dalam pelatihan ini. Program dirancang khusus untuk masyarakat sipil dengan kurikulum yang berfokus pada kedisiplinan dan kepemimpinan manajerial, bukan pembentukan prajurit tempur .
“Perlu kami tegaskan bahwa kegiatan ini bukan bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit atau anggota militer. Para peserta tetap berada pada profesi dan penugasan sipilnya,” tegas Mayjen Ketut .
