Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon kembali menggelar Seminar Hasil Kajian Koleksi Museum Pangeran Cakrabuana pada hari kedua. Kali ini, kajian difokuskan pada seni tari topeng Cirebon sebagai warisan budaya yang mengandung nilai filosofis, spiritual, dan historis yang perlu dilestarikan oleh generasi muda.Seminar hasil kajian seni tari topeng Cirebon ini diikuti oleh para guru, mahasiswa, seniman, budayawan, dan pegiat kebudayaan di Kabupaten Cirebon. Kegiatan ini merupakan rangkaian program strategis Disbudpar untuk memperkenalkan koleksi museum sekaligus memperkuat komitmen pelestarian budaya lokal.Dalam sambutannya, Sekretaris Disbudpar Kabupaten Cirebon menyampaikan bahwa tari topeng bukan hanya sebuah pertunjukan seni semata, melainkan juga memuat ajaran kehidupan mendalam yang diwariskan melalui karakter-karakter topeng. Di tengah perkembangan era digital, nilai-nilai tersebut perlu terus dikenalkan agar tetap relevan bagi generasi muda.Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Cirebon, Raden Mohamad Al-Banna, menjelaskan bahwa tari topeng memiliki beragam gaya unik seperti Gegesik, Losari, dan Selangit, yang masing-masing menyimpan nilai filosofis dan karakter berbeda. Melalui seminar ini, peserta diajak memahami makna spiritual yang terkandung di balik setiap topeng yang menjadi koleksi unggulan Museum Pangeran Cakrabuana.Sementara itu, salah satu narasumber, Baedah, menjelaskan bahwa pelestarian tari topeng gaya Gegesik tidak hanya membutuhkan penari, tetapi juga generasi penerus pengendang dan pelaku seni pendukung lainnya. Menurutnya, keberadaan pengendang menjadi unsur penting agar roh pertunjukan tari topeng tetap hidup dan berkembang di masyarakat.Moderator seminar, Dea Angkasa Putri Supardi, menyebutkan bahwa tari topeng Cirebon pada mulanya lahir sebagai media syiar Islam, sehingga hingga kini tetap memiliki nilai tuntunan selain menjadi tontonan. Menurutnya, penguatan literasi dan edukasi menjadi langkah krusial untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.Kegiatan ini pun mendapat apresiasi tinggi dari para peserta. Guru SMP Negeri 3 Sumber, Muhammad Wahidin, menilai seminar ini memberikan pemahaman berharga bahwa tari topeng merupakan bagian dari dakwah dan tradisi budaya Cirebon yang perlu terus diperkenalkan kepada para siswa di sekolah.Di sisi lain, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon, Chaikal Ardhiansyah Ibrahim, mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai filosofi tari topeng dan berharap pemerintah daerah terus konsisten melibatkan generasi muda dalam berbagai program pelestarian budaya.Melalui Seminar Hasil Kajian ini, Pemerintah Kabupaten Cirebon berharap nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam tari topeng tidak hanya terjaga sebagai warisan masa lalu, namun juga dapat dioptimalkan sebagai sumber edukasi, penguat identitas daerah, serta pendukung utama dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya.