Tiga Kali Gagal Jadi Presiden
Ambisi politik Ghalibaf tidak berhenti di Teheran. Ia beberapa kali mencoba menembus kursi kepresidenan Iran.
Tercatat, ia maju dalam pemilihan presiden pada 2005, 2013, dan 2017. Namun, seluruh upaya tersebut berakhir dengan kekalahan.
Meski demikian, kegagalan dalam kontestasi presiden tidak membuat pengaruh politiknya surut. Sebaliknya, ia tetap menjadi figur penting di kubu konservatif yang memiliki basis dukungan kuat di parlemen maupun kalangan Garda Revolusi.
Baca Juga:Benjamin Netanyahu Dapat Seruan "Mundur" di Acara Wisuda Militer IsraelPerang, Iran dan AS Apakah Bisa Ikut Piala Dunia 2026? Cek Aturan FIFA Soal Konflik dan Partisipasi
Menjadi Ketua Parlemen dan Tokoh Sentral Iran
Puncak karier politiknya datang pada 2020 ketika ia terpilih sebagai Ketua Majelis Syura Islam atau Parlemen Iran.
Posisi tersebut menempatkannya sebagai salah satu pejabat paling berpengaruh dalam sistem politik Iran. Selain memiliki peran penting dalam pembentukan undang-undang, Ketua Parlemen juga terlibat dalam berbagai isu strategis, termasuk kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.
Setelah gelombang pembunuhan pemimpin-pemimpin tinggi Iran oleh AS dan Israel, Ghalibaf muncul sebagai salah satu tokoh paling senior di Iran. Ali Larijani, arsitek utama strategi militer dan diplomatik Iran, tewas akibat serangan udara, sehingga Ghalibaf otomatis muncul sebagai representasi publik baru yang mengurusi taktik perang sekaligus koridor diplomasi luar negeri Iran.
Banyak pengamat menilai Ghalibaf sebagai figur yang mampu menjembatani kepentingan kalangan militer, parlemen, dan elite konservatif Iran.
Fakta Menarik tentang Mohammad Bagher Ghalibaf
Di balik citranya sebagai mantan komandan militer, Ghalibaf juga memiliki latar belakang akademik. Ia diketahui meraih gelar doktor di bidang geografi politik.
Tak hanya itu, ia juga dikenal sebagai pilot dan pernah menerbangkan pesawat komersial Airbus. Kombinasi pengalaman militer, akademik, dan birokrasi membuatnya kerap disebut sebagai “teknokrat konservatif”, yakni politisi yang tetap berpegang pada nilai-nilai konservatif tetapi memiliki pendekatan pragmatis dalam urusan pemerintahan dan pembangunan.
Mengapa Ghalibaf Disebut Menjadi Target Pembunuhan?
Nama Ghalibaf kembali menjadi sorotan setelah sejumlah media internasional mengutip laporan yang menyebut adanya kekhawatiran dari pihak Amerika Serikat terkait kemungkinan upaya penargetan terhadap tokoh-tokoh penting Iran selama berlangsungnya proses diplomasi regional.
