Padel, olahraga yang merupakan perpaduan antara tenis dan squash, sedang naik daun. Untuk pertama kalinya, Jakarta menjadi tuan rumah turnamen resmi Federasi Padel Internasional (FIP), yakni FIP Bronze & FIP Promises 2026. Turnamen yang digelar di RANA Grounds Mampang ini diikuti oleh para pemain dari berbagai negara dan menjadi tonggak sejarah bagi perkembangan padel di Indonesia. Ketua Umum KONI, Marciano Norman, hadir langsung dan menyatakan optimisme bahwa padel bisa menjadi cabang olahraga unggulan baru, sepopuler futsal atau tenis. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar konsumen, tetapi juga tuan rumah bagi olahraga-olahraga yang sedang berkembang pesat.
Selain padel, Woodball atau olahraga pukul bola kayu, juga menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) terbesar sepanjang sejarah di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Diikuti oleh 223 atlet dari 16 provinsi, Kejurnas ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga seleksi untuk mengirimkan atlet terbaik ke Piala Dunia Woodball 2026 yang akan digelar di Perlis, Malaysia. Ketua Umum Indonesia Woodball Association (IWBA), Aang Sunadji, bahkan menggratiskan biaya partisipasi agar daerah-daerah tidak terbebani dan bisa mengirimkan atlet terbaiknya. Ini adalah langkah maju dalam pembinaan prestasi olahraga nasional.
Piala Presiden 2026: Pemanasan Menuju Kompetisi Resmi
Dunia sepak bola Indonesia juga tidak kalah sibuk. Turnamen pramusim Piala Presiden 2026 akan segera bergulir pada 25 Juli hingga 6 Agustus 2026 di Bandung dan Surabaya. Edisi kedelapan ini akan diikuti oleh delapan klub, terdiri dari lima klub Indonesia dan tiga klub ASEAN.
Baca Juga:Padel Indonesia Makin Serius! PBPI Siapkan Timnas untuk Asian Games 2026 dan Piala DuniaLapangan Padel Menjamur Di Kota Cirebon – Video
Lima klub Indonesia yang bertarung adalah Persib Bandung, Arema FC, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, dan PSMS Medan. Tiga klub asing yang turut meramaikan adalah Port FC (Thailand), Tampines Rovers (Singapura), dan DPMM FC (Brunei Darussalam). Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyatakan bahwa turnamen ini bukan sekadar pemanasan, melainkan ajang untuk mengukur sejauh mana klub-klub Indonesia bisa bersaing dengan tim-tim terbaik Asia Tenggara. Apalagi Port FC adalah juara bertahan, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi wakil Indonesia. Hadiah juara tahun ini pun ditingkatkan sebagai bentuk apresiasi.
