Spanduk Politik Argentina. FIFA juga menyelidiki Argentina karena pemainnya membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” setelah kemenangan semifinal melawan Inggris. FIFA melarang pernyataan politik dalam sepak bola, dan Argentina dapat menghadapi sanksi tambahan atas insiden ini.
Keuangan dan Masa Depan FIFA: Rekor Pendapatan di Tengah Badai
Di tengah badai kontroversi, FIFA justru mencatat rekor pendapatan fantastis dari Piala Dunia 2026. FIFA menghasilkan pendapatan hingga US$ 15 miliar (sekitar Rp 233 triliun), jauh melampaui target awal US$ 11 miliar. Pendapatan ini didorong oleh peningkatan jumlah pertandingan dari 64 menjadi 104, serta kenaikan harga tiket yang signifikan.
Total hadiah uang yang dibagikan kepada peserta mencapai US$ 655 juta hingga US$ 871 juta, tergantung sumber. Spanyol sebagai juara menerima US$ 50 juta, sementara Argentina sebagai runner-up mendapatkan US$ 33 juta.
Baca Juga:Dari Final Berdarah hingga Rekor Rp 233 Triliun: FIFA di Tengah Sorotan Usai Piala Dunia 2026Final dengan Pertunjukan Pertama: Kontroversi Jeda 27 Menit di Piala Dunia 2026
Namun, rekor pendapatan ini justru menjadi ironi di tengah krisis kredibilitas yang dihadapi FIFA. Dewan Eropa memperingatkan bahwa “krisis berikutnya telah dimulai. Ia memiliki dua nama: uang dan kekuasaan”. Mereka mendesak FIFA untuk segera membangun kerangka kerja yang lebih kuat menjelang Piala Dunia 2030.
Dari intervensi politik hingga investigasi disipliner, Piala Dunia 2026 telah menempatkan FIFA di bawah sorotan yang lebih tajam dari sebelumnya. Badan sepak bola dunia ini kini menghadapi tugas berat untuk menyeimbangkan antara inovasi, integritas kompetisi, dan tanggung jawab finansial di tengah tuntutan yang semakin besar dari berbagai pemangku kepentingan.
