Harga Minyak Tembus US$90 Lagi, Beban Berat Menanti APBN dan Kantong Masyarakat

Ilustrasi kilang minyak dengan latar grafik harga minyak yang melonjak ke atas US$90
Harga minyak Brent menembus US$90 per barel imbas konflik AS-Iran dan ancaman blokade Selat Hormuz.
0 Komentar

Efek Dompet Masyarakat

Dampak paling cepat dirasakan masyarakat adalah efek rambatan ke biaya transportasi dan logistik akibat kenaikan harga BBM non-subsidi. “Kenaikan BBM nonsubsidi akan meningkatkan ongkos distribusi barang sehingga harga pangan dan berbagai kebutuhan lain ikut terdorong naik,” jelas Yusuf .

Ekonom CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, memperkirakan kenaikan harga minyak dunia akan memicu penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada awal Agustus . Adapun BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar diperkirakan masih dipertahankan hingga akhir tahun, namun konsekuensi fiskalnya tidak kecil karena lonjakan harga minyak global untuk sementara lebih banyak ditanggung melalui APBN .

Skenario Terburuk

Kepala Strategi Investasi AMP Shane Oliver memperingatkan risiko yang lebih besar jika konflik terus berlanjut. “Semakin lama Selat Hormuz ditutup dan perang meningkat, semakin besar risiko harga minyak harus naik hingga sekitar US$150 per barel agar permintaan turun dan sesuai dengan penurunan pasokan,” ujarnya .

Baca Juga:Bahlil Buka Peluang Harga Pertamax Turun Jika Minyak Dunia Terus MelemahHarga Minyak Turun di Bawah US$ 70 per Barel, Aktivitas Selat Hormuz Kembali Normal

Skenario ini bukan tidak mungkin terjadi mengingat Iran menguasai Selat Hormuz yang menjadi jalur logistik utama energi dunia. Jika jalur tersebut terganggu akibat perang, hampir separuh pasokan minyak dunia terancam, memaksa Indonesia membayar biaya impor jauh lebih mahal .

0 Komentar