Selain mengurangi kenyamanan, panggilan telepon juga dinilai dapat:
- Mengganggu konsentrasi penumpang.
- Memicu keluhan maupun perselisihan antarpenumpang.
- Menyulitkan penumpang mendengar pengumuman penting dari kru kabin.
Karena alasan tersebut, larangan menelepon dianggap mampu menciptakan suasana penerbangan yang lebih nyaman bagi semua orang di dalam kabin.
Aturan yang Berbeda Antarmaskapai Dinilai Membingungkan
Pakar industri perjalanan sekaligus mantan pramugara, Bobby Laurie, menilai aturan yang berbeda di setiap maskapai justru membingungkan penumpang.
Saat ini sejumlah maskapai besar di Amerika Serikat, seperti United, American, dan Southwest, masih melarang panggilan telepon selama penerbangan. Sementara itu, British Airways dan Virgin Atlantic mulai mengizinkan panggilan telepon atau video berdurasi singkat pada armada tertentu yang telah dilengkapi layanan Wi-Fi Starlink.
Baca Juga:Garuda Pertiwi Juara Piala AFF Wanita 2026, Siap Tampil di ASEAN Women's ChampionshipMengapa Tirai Jendela Pesawat Harus Dibuka saat Lepas Landas dan Mendarat? Ini 4 Alasannya
Menurut Laurie, aturan yang berlaku secara nasional akan membantu kru kabin menegakkan kebijakan tanpa harus menghadapi perdebatan dengan penumpang mengenai perbedaan aturan di masing-masing maskapai.
Kenyamanan Penumpang Jadi Pertimbangan Utama
Usulan larangan tersebut juga mendapat dukungan dari Presiden FlyerRights, Paul Hudson. Organisasi perlindungan penumpang itu mendukung penerapan larangan penuh terhadap panggilan telepon selama penerbangan.
Meski demikian, Hudson mengusulkan agar tersedia fasilitas khusus bagi penumpang yang memiliki kebutuhan mendesak, misalnya untuk urusan bisnis penting atau keadaan darurat keluarga.
Menurutnya, konsep tersebut dapat diterapkan seperti area khusus telepon yang tersedia pada layanan kereta Amtrak, sehingga kebutuhan komunikasi tetap dapat dipenuhi tanpa mengganggu penumpang lain.
Etika di Ruang Publik Juga Menjadi Sorotan
Selain berkaitan dengan kenyamanan dan keselamatan penerbangan, larangan menelepon di pesawat juga dinilai sebagai bagian dari etika di ruang publik.
Pakar etika sekaligus mantan pramugari Jacqueline Whitmore menjelaskan bahwa jarak antarkursi yang sangat dekat membuat percakapan pribadi mudah didengar oleh orang lain. Karena itu, tidak semua penumpang ingin mendengarkan isi pembicaraan pribadi selama berada di dalam pesawat.
Menjaga suasana kabin tetap tenang dinilai sebagai bentuk saling menghargai antarpenumpang selama perjalanan berlangsung.
Baca Juga:Cara Mendidik Anak di Era Digital, Jangan Hanya Fokus pada Screen TimeBahlil Dorong Pengembangan Mobil Hidrogen, Target Jadi Alternatif Kendaraan Listrik
Larangan Disejajarkan dengan Aturan Merokok di Pesawat
Pemerintah Amerika Serikat selama ini umumnya menyerahkan persoalan etika maupun perilaku penumpang kepada kebijakan masing-masing maskapai. Namun, jika menyangkut kesehatan dan keselamatan penerbangan, pemerintah dapat menetapkan aturan yang berlaku secara nasional.
