Pemicu Stunting yang Sering Diabaikan Orang Tua: Bukan Cuma Soal Makanan!

Ilustrasi anak kecil
Bukan sekadar kurang makan, stunting dipicu oleh rendahnya pemahaman 1000 HPK, jarang ke posyandu, dan kebersihan tangan yang buruk. (Pexels)
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Selama ini, banyak orang tua mengira stunting hanya disebabkan oleh kurangnya asupan makanan. Padahal, ada faktor-faktor penting lain yang sering luput dari perhatian dan justru menjadi pemicu utama risiko stunting pada anak.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen . Namun, angka ini masih menyisakan masalah besar. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), prevalensi stunting mencapai 37 persen—artinya, dari 10 anak, hampir 4 di antaranya mengalami stunting . Lalu, apa saja pemicu yang sering terlewat?

1. Kurangnya Pemahaman 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)

Banyak keluarga belum memahami betapa krusialnya periode 1.000 HPK, yaitu sejak kehamilan hingga anak berusia 2 tahun . Menteri Kependudukan Wihaji menekankan bahwa jika intervensi terlambat dan anak sudah terindikasi stunting, persentase kesembuhan hanya sekitar 20 persen .

Baca Juga:Breaking! Zinedine Zidane Resmi Jadi Pelatih Timnas Prancis, 5 Tahun Menunggu Mimpi Jadi Nyata!IHSG Anjlok 2 Hari Beruntun, Sektor Properti Jadi Korban Terparah! Saham DEWA Malah Kokoh

Faktanya, ibu hamil sering tidak mengonsumsi tablet tambah darah yang cukup, tidak memantau kehamilan secara teratur, dan kurang memperhatikan asupan gizi . Tanpa intervensi tepat waktu, stunting dapat menghambat perkembangan otak dan menurunkan kemampuan belajar anak .

2. Jarang ke Posyandu dan Kurang Deteksi Dini

Studi di Karanganyar, Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa anak yang jarang mengunjungi posyandu memiliki risiko stunting 3,3 kali lebih tinggi . Sayangnya, masih banyak ibu yang enggan atau bahkan dilarang suami untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan . Padahal, deteksi dini melalui penimbangan dan pengukuran rutin adalah kunci mencegah stunting memburuk.

3. Kurangnya Pengetahuan tentang Intervensi Gizi Khusus (PKMK dan PDK)

Banyak orang tua belum tahu bahwa anak berisiko stunting memerlukan intervensi gizi spesifik seperti Pangan Olahan untuk Kondisi Medis Khusus (PKMK) dan Pangan Diet Khusus (PDK) .

Kedua jenis pangan ini diformulasikan khusus di bawah pengawasan medis untuk membantu mengatasi malanutrisi . Di Kabupaten Grobogan, pemberian susu PDK terbukti signifikan meningkatkan berat badan 75-80 persen balita stunting . Sayangnya, pengetahuan orang tua tentang ini masih sangat rendah.

4. Kebersihan Tangan yang Diabaikan

Faktor yang sering dianggap sepele namun sangat berpengaruh adalah perilaku cuci tangan. Studi yang sama di Karanganyar menunjukkan anak dengan kebersihan tangan buruk memiliki risiko stunting hampir 3 kali lipat dibandingkan anak yang higienis .

0 Komentar